<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mahasiswa PKNH 2003</title>
	<atom:link href="http://pknh2003.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pknh2003.wordpress.com</link>
	<description>Dirgahayu INDONESIA Sukses 63 Tahun Indonesia Merdeka.......!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Nov 2008 04:59:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pknh2003.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mahasiswa PKNH 2003</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pknh2003.wordpress.com/osd.xml" title="Mahasiswa PKNH 2003" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pknh2003.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>STRATEGI PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/11/17/strategi-pembelajaran/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/11/17/strategi-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 04:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[STRATEGI PEMBELAJARAN Oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=63&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">STRATEGI PEMBELAJARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (<em>Contextual Teaching Learning</em>); (2) Bermain Peran (<em>Role Playing</em>); (3) Pembelajaran Partisipatif (<em>Participative Teaching and Learning</em>); (4) Belajar Tuntas (M<em>astery Learning</em>); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (<em>Modular Instruction</em>). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (<em>inquiry</em>). <span id="more-63"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing model pembelajaran tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:6pt 0 6pt 18pt;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">A.</span></strong><span style="font-size:7pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran Kontekstual (<em>Contextual Teaching Learning</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran Kontekstual (<em>Contextual Teaching Learning</em>) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pembelajaran      harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pembelajaran      dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus      (dari umum ke khusus)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pembelajaran      harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep      sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan      dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pembelajaran      ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang      dipelajari.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Adanya      refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang      dipelajari.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:6pt 0 6pt 18pt;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">B.</span></strong><span style="font-size:7pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bermain Peran (<em>Role Playing</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (<em>interpersonal relationship</em>), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, (E. Mulyasa, 2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pengambilan keputusan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:6pt 0 6pt 18pt;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">C.</span></strong><span style="font-size:7pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran Partisipatif (<em>Participative Teaching and Learning</em>) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Menciptakan      suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Membantu      peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Membantu      peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Membantu      peserta didik menyusun tujuan belajar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Membantu      peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Membantu      peserta didik melakukan kegiatan belajar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Membantu      peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:6pt 0 6pt 18pt;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">D.</span></strong><span style="font-size:7pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Belajar Tuntas (<em>Mastery Learning</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan <em>(feedback)</em>. Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (<em>diagnostic progress test</em>); (2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu: (1) mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan (3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) <em>corrective technique</em> yaitu semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:6pt 0 6pt 18pt;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">E.</span></strong><span style="font-size:7pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran dengan Modul (<em>Modular Instruction</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Setiap      modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas      tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan,      dan sumber belajar apa yang harus digunakan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Modul      meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan      sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus :      (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan      kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar      yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan      pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pengalaman      belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai      tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan      peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar      membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan      untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Materi      pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik      dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta      tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau      dipelajari.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Setiap      modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta      didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam      mencapai ketuntasan belajar. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai beriku: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pendahuluan;</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan,      keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk      kemampuan awal yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tujuan      Pembelajaran</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">;      berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta didik,      setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal      dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tes      Awal</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">;      yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui kemampuan      awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah      perlu untuk mempelajari atau tidak modul tersebut.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pengalaman      Belaj</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">ar;      yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus,      diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik      tentang tujuan belajar yang dicapainya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sumber</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> <em>Belajar</em>; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri      dan digunakan oleh peserta didik.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tes      Akhir</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">;      instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada      tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:6pt 0 6pt 18pt;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">F.</span></strong><span style="font-size:7pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran Inkuiri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Merumuskan      masalah</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">;      kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b)      melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah. </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mengembangkan      hipotesis</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">;      kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah : (a)      menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan      merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan hipotesis. </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Menguji      jawaban tentatif;</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> kemampuan yang dituntut adalah :      (a) merakit peristiwa, terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan,      mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b) menyusun data, terdiri dari      : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan      data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat      persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan      keteraturan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Menarik      kesimpulan; </span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">kemampuan      yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan; dan (b)      merumuskan kesimpulan</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Menerapkan      kesimpulan dan generalisasi</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Untuk memahami lebih lanjut tentang model-model pembelajaran ini, Anda dapat mengakses tautan di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><a title="model-pembelajaran-01.ppt" href="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2007/06/model-pembelajaran-01.ppt"><span style="color:blue;">01-Model-Model Pembelajaran-01 </span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><a title="model-model-pembelajaran-yang-efektif.ppt" href="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2007/05/model-model-pembelajaran-yang-efektif.ppt"><span style="color:blue;">02-Model-Model Pembelajaran-02</span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sumber :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-36pt;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya. <em>Strategi Belajar Mengajar</em>. Bandung : Pustaka Setia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-36pt;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">E. Mulyasa.2003. <em>Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi</em>. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-36pt;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">_________. 2004. <em>Implementasi Kurikulum 2004</em>; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-36pt;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Udin S. Winataputra, dkk. 2003. <em>Strategi Belajar Mengajar</em>. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-36pt;line-height:normal;margin:6pt 0 6pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">W. Gulo. 2005. <em>Strategi Belajar Mengajar</em> Jakarta :. Grasindo.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=63&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/11/17/strategi-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesiaku, Harapan itu Masih Ada!</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/08/17/indonesiaku-harapan-itu-masih-ada/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/08/17/indonesiaku-harapan-itu-masih-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 03:29:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Indonesiaku, Harapan itu Masih! Ada! Manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=56&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:center;">
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:red;">Indonesiaku, Harapan itu Masih! Ada!<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://pknh2003.files.wordpress.com/2008/08/sukarno1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-58" src="http://pknh2003.files.wordpress.com/2008/08/sukarno1.jpg?w=300&#038;h=246" alt="" width="300" height="246" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan  darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak  untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing,  Saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air kita Indonesia,  pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk  merdeka.<strong> Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dirgahayu </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">, sudah 63 tahun usia kemerdekan bangsa </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">. Merdeka pada prinsipnya freedom/bebas. Ya bebas dari penjajahan yang merupakan musuh bersama bangsa Indonesia waktu itu, para founding father kita memiliki satu tekad bersama dalam membangun bangsa ini untuk merdeka bebas dari penjajahan Belanda sehingga bangsa ini berdaulat tanpa ada ketergantungan, tekanan, dan ancaman dari bangsa asing. Ternyata cita-cita dan tekad bersama itu terwujud dengan terusirnya penjajah Belanda ke tanah airnya sendiri, saat itulah<span> </span>kemerdekaan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> di deklarasikan. Menjadi pertanyaan sekarang dalam usia 63 tahun sudahkan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> merdeka!</span><span id="more-56"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Memang banyak pengamat baik politik, ekonomi, social, dan agama menganggap dalam konteks sekarang </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> belum merdeka. Indikaswi itu bias dilihat dari adanya jumlah kemiskinan yang selalu bertambah, pengangguran, keamanan, dan meningkatnya anak putus sekolah dikarenakan biaya pendidikan mahal yang tidak bias dijangkau oleh rakyat kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sebuah studi kemiskinan Bank Dunia bertema Making The New </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> Work For The Foor menunjukan bahwa di Negara ini masih terdapat 39,1 juta orang atau 17,75 persen populasi masyarakat yang miskin. Artinya, angka kemiskinan di </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> sejak 1998 belum membaik. Jumlah orang miskin periode 1998-2006 berkisar 34-50 juta orang. Tidak adanya kemajuan dalam program pengentasan kemiskinan tersebut, menurut Institut for Develompment of Economic And Finance (INDEF), Imam Sugema, setidaknya bias dilihatdari tiga sisi, yaitu income, beban hidup, dan ada tidaknya program anti kemiskinan makin dinamis. Walupun usaha pemerintah dengan program Bantuan Tunai Langsung (BLT) salah satu program pengentasan kemiskinan dirasa banyak pengamat ekonomi itu tidak memecahkan masalah jika ditinjau dari sisi empiric, efektivitas, dan metodologi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Untuk angka pengangguran, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penggangguran di Indonesia pada februari 2008 tercatat 9,43 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka di </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> pada februari 2008 mencapai 8,46 persen dari 200 juta lebih penduduk </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indikasi keamanan juga mengkhawatirkan. Adanya pembunuhan berantai, kekerasan sesama warga mudah terjadi, di sector hokum, Masih lemahnya penegakan hokum bagi para koruptor dengan indikasi berlarut-larutnya penyelesaian hokum serta penyelesaian hokum yang tidak membuat jera bagi terpidana korupsi. Sehingga terjadi ketidak penyesalan, ketidak maluan dari para koruptor, seolah-olah gelar sebagai koruptor lebih mulia dari seorang pencuri ayam di kampong. Bangsa ini memiliki penyakit kronis berupa korupsi seperti halnya Virus HIV AIDS kalau tidak dicegah itu akan dapat menular dengan cepat keorang lain. Coba kita saksikan<span> </span>ditemukan para pejabat-pejabat yang terkena korupsi, ternyata satu orang tersangka bisa membuka tirai para penghkianat bangsa ini kasus aliran dana BLBI misalnya menjalar<span> </span>anggota DPR, para menteri dan para jaksa. Sungguh ironis seorang teriak korupsi<span> </span>dirinya korupsi. <strong><span style="color:red;">Tentunya agenda 63 tahun harus ada consensus bersama untuk mengusir para koruptor, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu kita memiliki consensus usir penjajah.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>Sector ekonomi penguasaan aset-aset pemerintah kita bukan pribumi tetapi para kapitalis asing. Agaknya ini menjadi geram bagi seorang Pak Amien Rais dalam buku barunya selamatkan Indonesia, bagi beliau merupakan agenda mendesak kaitanya dengan penguasaan asset-aset Negara yang banyak dikuasai oleh pemodal asing, hemat penulis kondisi tidak jauh beda dengan kita sedang dijajah tempo dulu. Bedanya dulu dijajah dengan senjata, sekarang dijajah oleh pemodal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Itulah fenomena-fenomena social di tubuh bangsa </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">. Dan hamper seluruh fenomena tersebut menghiasi perbicangan-bincangan baik di media cetak, media elektronik, di rumah, kantor, warung, dan tempat ibadah.<span>&#8230; terus apa yang kita perbuat &#8230;. bersambung pada bagian 2 </span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></p>
</blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=56&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/08/17/indonesiaku-harapan-itu-masih-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pknh2003.files.wordpress.com/2008/08/sukarno1.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang! Ramadhan Syahru Tarbiyyah</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/08/14/selamat-datang-ramadhan-syahru-tarbiyyah/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/08/14/selamat-datang-ramadhan-syahru-tarbiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 06:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Selamat Datang! Ramadhan Syahru Tarbiyyah Oleh; Ibnu Asyakir Bulan Ramadhan sudah diambang pintu, insya Allah tanggal 1 september 2008 M. bulan yang disyari’atkannya puasa bagi 1 milyar lebih pendudukan muslim di dunia ini. Pertanyaanya pernahkan kita merindukan bulan tersebut, dibandingkan dengan 11 bulan lainnya? Ataukah hati dan jiwa kita bergembira ataukah tidak dengan kedatangan bulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=52&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Selamat Datang! Ramadhan Syahru Tarbiyyah</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Oleh; Ibnu Asyakir </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bulan Ramadhan sudah diambang pintu, insya Allah tanggal 1 september 2008 M. bulan yang disyari’atkannya puasa bagi<span> </span>1 milyar lebih pendudukan muslim di dunia ini. Pertanyaanya pernahkan kita merindukan bulan tersebut, dibandingkan dengan 11 bulan lainnya? Ataukah hati dan jiwa kita bergembira ataukah tidak dengan kedatangan bulan suci ramadhan. Kalau ya, beruntunglah kita lantaran Rosulullah memberikan kabar gembira tentang kedatangannnya.</span><span id="more-52"></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> Rasulullah saw memberi kabar gemberi kepada para sahabat dengan bersabda </span><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Penantian dibulan ramadhan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bagaimana mungkin Rasulullah dan para sahabat tidak berharap dan bergembira akan kedatangan bulan Ramadhan, karena bulan itulah kasih dan sayang Allah curahkan kepada umat Rasulallah saw. Penantian akan kehadiran Ramadhan sudah jauh-jauh hari senantiasa dirindukan oleh nabi dan para sahabat sebagaimana Nabi mengajarkan untuk berdoa kepada Allah sebagaimana dalam sabdanya <em>“Ya Allah berkatilah kami dibulan Rajab dan Syaban dan hantarkan kami kepada bulan Ramdhan” </em><span> </span>ini menunjukkan bahwa Nabi dan para Sahabat<span> </span>harapan dan kesungguhan betapa Ramadhan memang harus dipersiapkan sejak dini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Allah SWT mewajibkan setiap mukmin untuk berpuasa, sebagaimana firmanNya dalam QS Al Baqarah 183: <em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.</em> Bulan Ramadhan dengan segala kelebihan dan keutamaannya adalah proses <em>tarbiyah</em> yang datangnya langsung dari Allah SWT. Hasil dari proses <em>tarbiyah</em> tersebut adalah lahirnya pribadi mukmin yang bertaqwa. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan karakteristik pribadi muslim yang bertaqwa. Misalnya dalam QS Al Baqarah 177: <em>“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.</em> Dalam ayat tersebut Allah memberikan definisi <em>al birr</em> (kebajikan) yang harus menjadi karakteristik orang yang beriman dengan sebenarnya dan bertaqwa. Dalam ayat yang lain Allah SWT “mensejajarkan” antara menjaga ketaqwaan dengan “perintah” agar setiap mukmin tidak mati selain dalam keadaan Islam. Padahal kematian adalah sebuah kepastian yang tidak diketahui kapan datangnya. Sehingga “menjaga” agar tetap “islami” di setiap saat dan keadaan adalah satu-satunya pilihan, sebagai salah satu perwujudan dari pribadi yang bertaqwa. Dan singkatnya karakteristik ketaqwaan dalam alquran didasari oleh perintah-perintah kebaikan yang itu dengan sendirinya menghantarkan pribadinya dekat kepada Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dari beberapa ayat dan hadits Nabi di atas, Allah hendak menjadikan puasa Ramadhan sebagai momentum lahirnya individu yang berkepribadian islami <em>(As-Syakhsiyah Islamiyah),</em> yakni pribadi dengan karakteristik sebagai berikut: 1. Memiliki pemahaman aqidah yang bersih (utuh) lantaran keyakinannya kepada Allah, hari akhir, malaikat dan kitab-kitab, serta para nabi. 2. Beribadah secara benar seperti senantiasa mendirikan sholat dan senantiasa membayar zakat. 3. Maknawiyah (intergritas moral) yang mapan, seperti yang terpancar dari sifat sabar terhadap kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Proses tarbiyyah </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sudah jamak, bahwa terbentuknya individu yang berkepribadian islami akan melalui sebuah proses, salah satunya proses itu kita kenal sebagai <em>tarbiyah</em>. Dan dengan puasa di bulan Ramadhan, Allah SWT hendak <em>mentarbiyah</em> langsung hamba-hambanya guna terbentuknya individu berkepribadian islami. <em>Tarbiyah</em> dengan segala proses dan tujuan yang ada di dalamnya, seperti <em>Tansyi’ah</em> (pembentukan), <em>Ri’ayah</em> (pemeliharaan), <em>Tanmiyah</em> (pengembangan), <em>Taujih</em> (pengarahan) dan <em>Tauzhif</em> (Pemberdayaan), secara utuh bisa dijumpai dalam ibadah dan aktivitas lainnya selama bulan Ramadhan. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pertama, <span> </span>Tansyi’ah (pembentukan). </span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Salah satu sisi penting dalam proses <em>Tansyi’ah</em> ini adalah pembentukan <em>ruhiyah maknawiyah</em>. Pembentukan <em>ruhiyah maknawiyah</em> dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan ibadah wajib dan sunnah seperti <em>qiyamul lail/tarawikh</em>, <em>puasa</em>, <em>membaca Al </em><span> </span>Qur’an, dzikir dan lain sebagainya. Dan selama Ramadhan Allah SWT membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi setiap individu untuk maraih semua keutamaan yang Allah SWT janjikan di setiap aktivitas ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Beberapa contoh hadits yang menjelaskan keutamaan menjalankan Ibadah selama Ramadhan adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda: “<em>Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.’ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut bulan Ramadhan seraya bersabda : <em>“Sungguh, Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunatkan shalat malamnya. Maka barangsiapa menjalankan puasa dan shalat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat ketika dilahirkan ibunya.” (HR. An-Nasa’i, katanya: yang benar adalah dari Abu Hurairah)</em>. Dinyatakan dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: <em>“Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. ” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).</em> Setiap individu harus mampu menjadikan sarana-sarana <em>tarbiyah</em> selama Ramadhan dalam membentuk pribadi pada sisi <em>ruhiyah maknawiyah</em>nya dan dirasakan serta disadari olehnya bahwa ia sedang menjalani proses pembentukan <em>ruhiyah maknawiyah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kedua <strong><span> </span>Ri’ayah</strong></span></em><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> (pemeliharaan), </span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Proses pembentukan dalam <em>ruhiyah maknawiyah</em>, termasuk <em>fikriyah</em> dan <em>amaliyah</em> yang sudah atau mulai terbentuk harus dijaga dan dipelihara jangan sampai ada yang berkurang, menurun atau melemah. Dengan demikian kualitas dan kuantitas ibadah yang dilakukan selama Ramadhan harus tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Kemampuan kita dalam menjaga <em>ruhiyah maknawiyah</em> salah satunya bisa dilihat dari bagaimana kita menjalani hari-hari akhir Ramadhan dan melewati beberapa hari setelah Idul Fitri. Jika Ramadhan terbagi menjadi tiga bagian, maka kita kenal bahwa 10 hari terakhir yang merupakan masa “pembebasan dari api neraka” <em>(itqon minannar)</em> adalah masa yang paling berat. Banyak yang “tumbang” satu persatu di 10 hari terakhir, salah satunya karena “aroma” Idul Fitri sudah mulai terasa. Tapi, tidak bagi individu yang merasakan bahwa ia sedang menjalani proses <em>tarbiyah</em>. Tidak boleh ada penurunan dalam <em>tilawah yaumiyah</em> dan <em>qiyamul lail</em>nya. Apalagi di 10 hari terakhir ada masa di mana Allah SWT menurunkan malam <em>Lailatul Qadar</em> yakni malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Kemampuan untuk melakukan <em>Ri’ayah</em> (pemeliharaan) akan meberikan semangat untuk melewati Ramadhan dengan segala keutamaannya secara utuh. Begitu juga dalam melewati beberapa hari setelah Idul Fitri, proses <em>tarbiyah</em> itu ternyata belum berhenti. Seolah Allah SWT hendak memberitahukan kepada kita semuanya, bahwa hanya mereka yang mampu melakukan <em>Ri’ayah</em> (pemeliharaan) semangat Ramadhan sampai Idul Fitri (bulan Syawal) tiba yang akan mendapatkan manfaat dan keutamaan bulan Ramadhan. Seperti yang Rasulullah SAW sabdakan dalam sebuah hadits: Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda: <em>“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya).</em> Membiasakan puasa sunnah setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah SWT menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala ‘amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ketiga <strong>At Tanmiyah</strong></span></em><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(pengembangan). </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam menjalani ibadah selama Ramadhan, setiap mukmin tidak boleh puas dengan apa yang sudah dikerjakannya, apalagi menganggap sudah sempurna. Senantiasa ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, memperbaiki kekuarangan serta mengejar semua keutamaan yang Allah SWT janjikan selama Ramadhan hendaklah menjadi <em>spirit</em> bagi setiap mukmin yang berpuasa. Pelajaran berharga dari Allah SWT dapat dilihat dalam QS Al Baqarah 187: <em>“Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, dan makan minumlah hinngga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.”</em> Dalam ayat tersebut Allah SWT menghalalkan untuk bercampur dengan istri di malam hari, tapi di sisi lain Allah melarangnya saat kita beri’tikaf di masjid. Padahal memperbanyak i’tikaf di masjid adalah salah satu aktivitas yang dianjurkan selama Ramadhan. Disinilah ada proses <em>tarbiyah</em> dari Allah SWT kepada kita untuk senantiasa melakukan <em>At Tanmiyah</em> (pengembangan). Meskipun bercampur dengan istri di malam hari diperbolehkan, tapi bagi mereka yang senantiasa ingin melakukan peningkatan kualitas ibadah selama Ramadhan akan memilih untuk i’tikaf di masjid. Pengembangan diri juga terkandung dalam hikmah dianjurkannya puasa 6 hari di bulan Syawal. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: <em>“Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. ” (HR. Al-Bazzar).</em> Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa puasa Sunnah 6 hari di bulan Syawal adalah sebagai penyempurna dari puasa Ramadhan yang kita lakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Demikianlah proses tarbiyah yang hendak Allah SWT tunjukkan kepada setiap mukmin dalam menjalani ibadah Ramadhan. Muara yang hendak ingin dicapai dari semua proses tarbiyah tersebut adalah terbentuknya individu yang bertaqwa dan berkepribadian islami. Terlebih lagi bagi para da’i (kader dakwah) yang senantiasa berjuang membela <em>al-haq</em> (kebenaran) berperang melawan <em>al-bathil</em> (kebatilan), Ramadhan akan benar-benar dimaknani dan dimanfaatkan guna meningkatkan kualitas <em>Maknawiyah</em>nya. Karena ia adalah salah satu faktor utama dalam memenangkan “peperangan abadi” tersebut. Kesabaran adalah salah satu hikmah yang hendak diraih selepasnya bulan tarbiyah ini. <em>Wallahualam Bishawab</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 31.5pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=52&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/08/14/selamat-datang-ramadhan-syahru-tarbiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Cara Shalat Malam</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/beberapa-cara-shalat-malam/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/beberapa-cara-shalat-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam? Berapa rakaat Beliau melaksanakannya? Beberapa Cara Shalat Malam yang dikerjakan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam Untuk melengkapi pembahasan ini kami nukilkan keterangan Syaikh Al-Albani (terjemahan) yang berjudul Kelemahan Riwayat Tarawih 20 Rakaat, penerbit DATANS, Bangil (pen.) Dari hadits-hadits dan riwayat yang ada dapat disimpulkan bahwa Nabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=40&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="2" cellpadding="3" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" width="90%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td><span class="smalltype">Bagaimana Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam? Berapa rakaat Beliau melaksanakannya?<br />
</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="tengahtop"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Beberapa Cara Shalat Malam yang dikerjakan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam</p>
<p>Untuk melengkapi pembahasan ini kami nukilkan keterangan Syaikh Al-Albani (terjemahan) yang berjudul Kelemahan Riwayat Tarawih 20 Rakaat, penerbit DATANS, Bangil (pen.) <span id="more-40"></span></p>
<p>Dari hadits-hadits dan riwayat yang ada dapat disimpulkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam dan witir lengkap berbagai cara:</p>
<p><strong>1. Shalat 13 rakaat dan dimulai dengan 2 rakaat yang ringan. </strong></p>
<p>Berkenaan dengan ini ada beberapa riwayat:</p>
<p>A. Hadits Zaid bin Khalid al-Juhani bahwasanya berkata: Aku perhatikan shalat malam Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Yaitu (ia) shalat dua rakaat yang ringan, kemudian ia shalat dua rakaat yang panjang sekali. Kemudian shalat dua rakaat, dan dua rakaat ini tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian witir satu rakaat, yang demikian adalah tiga belas rakaat.(Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr)</p>
<p>B. Hadits Ibnu Abbas, ia berkata: Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. Kemudian meletakkan tangannya di atas kepalaku seakan-akan beliau memegang telingaku, seakan-akan membangunkanku, kemudian beliau shalat dua rakaat yang ringan. Beliau membaca Ummul Qur’an pada kedua rakaat itu, kemudian beliau memberi salam kemudian beliau shalat hingga sebelas rakaat dengan witir, kemudian tidur. Bilal datang dan berkata: Shalat Ya Rasulullah! Maka beliau bangun dan shalat dua rakaat, kemudian shalat mengimami orang-orang. (HR. Abu Dawud dan Abu ‘Awanah dalam kitab Shahihnya. Dan asalnya di Shahihain)</p>
<p>Ibnul Qayim juga menyebutkan hadits ini di Zadul Ma`ad 1:121 tetapi Ibnu Abbas tidak menyebut bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan sebagaimana yang disebutkan Aisyah.</p>
<p>C. Hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam apabila bangun malam, memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan, kemudian shalat delapan kemudian berwitir.</p>
<p>Pada lafadh lain: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat Isya, kemudian menambah dengan dua rakaat, aku telah siapkan siwak dan air wudhunya dan berwudlu kemudian shalat dua rakaat, kemudian bangkit dan shalat delapan rakaat, beliau menyamakan bacaan antara rakaat-rakaat itu, kemudian berwitir pada rakaat yang ke sembilan. Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sudah berusia lanjut dan gemuk, beliau jadikan yang delapan rakaat itu menjadi enam rakaat kemudian ia berwitir pada rakaat yang ketujuh, kemudian beliau shalat dua rakaat dengan duduk, beliau membaca pada dua rakaat itu Qul ya ayyuhal kafirun dan Idza zulzilat.</p>
<p>Penjelasan.<br />
Dikeluarkan oleh Thahawi 1/156 dengan dua sanad yang shahih. Bagian pertama dari lafadh yang pertama juga dikeluarkan oleh Muslim 11/184; Abu Awanah 1/304, semuanya diriwayatkan melalui jalan Hasan Al-Bashri dengan mu`an`an, tetapi Nasai meriwayatkannya (1:250) dan juga Ahmad V:168 dengan tahdits. Lafadh kedua ini menurut Thahawi jelas menunjukan bahwa jumlah rakaatnya 13, ini menunjukan bahwa perkataannya di lafadh yang pertama kemudian ia berwitir maksudnya tiga rakaat. Memahami seperti ini gunanya agar tidak timbul perbedaan jumlah rakaat antara riwayat Ibnu Abbas dan Aisyah.</p>
<p>Kalau kita perhatikan lafadh kedua, maka di sana Aisyah menyebutkan dua rakaat yang ringan setelah shalat Isya’nya, tetapi tidak menyebutkan adanya shalat ba’diyah Isya. Ini mendukung kesimpulan penulis di uraian terdahulu bahwa dua rakaat yang ringan itu adalah sunah ba`diyah Isya.</p>
<p><strong>2. Shalat 13 rakaat, yaitu 8 rakaat (memberi salam setiap dua rakaat) ditambah lima rakaat witir, yang tidak duduk kecuali pada rakaat terakhir. </strong></p>
<p>Tentang ini ada riwayat dari Aisyah sebagai berikut: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidur, ketika bangun beliau bersiwak kemudian berwudhu, kemudian shalat delapan rakat, duduk setiap dua rakaat dan memberi salam, kemudian berwitir dengan lima rakaat, tidak duduk kecuali ada rakaat kelima, dan tidak memberi salam kecuali pada rakaat yang kelima. Maka ketika muadzin beradzan, beliau bangkit dan shalat dua rakaat yang ringan.</p>
<p>Penjelasan<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad II:123, 130, sanadnya shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim. Dikeluarkan juga oleh Muslim II:166; Abu Awanah II:325, Abu Daud 1:210; Tirmidzi II:321 dan beliau mengesahkannya. Juga oleh Ad-Daarimi 1:371, Ibnu Nashr pada halaman 120-121; Baihaqi III:27; Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla III:42-43.</p>
<p>Semua mereka ini meriwayatkan dengan singkat, tidak disebut padanya tentang memberi salam pada tiap dua rakaat, sedangkan Syafi’i 1:1/109, At-Thayalisi 1:120 dan Hakim 1:305 hanya meriwayatkan tentang witir lima rakaat saja.</p>
<p>Hadits ini juga mempunyai syahid dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1:214 daan Baihaqi III:29, sanad keduanya shahih.</p>
<p>Kalau kita lihat sepintas lalu, seakan-akan riwayat Ahmad ini bertentangan dengan riwayat Aisyah yang membatas bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat, sebab pada riwayat ini jumlah yang dikerjakan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam adalah 13 rakaat + 2 rakaat qabliyah Shubuh.</p>
<p>Tetapi sebenarnya kedua riwayat ini tidak bertentangan dan dapat dijama’ seperti pad uraian yang lalu.</p>
<p>Kesimpulannya dari 13 rakaat itu, masuk di dalamnya 2 rakaat Iftitah atau 2 rakaat ba’diyah Isya.</p>
<p><strong>3. Shalat 11 rakaat dengan memberi salam setiap dua rakaat dan berwitir 1 rakaat.</strong></p>
<p>Dasarnya hadits Aisyah berikut ini: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat pada waktu antara selesai shalat Isya, biasa juga orang menamakan shalat ‘atamah hingga waktu fajar, sebanyak 11 rakaat, beliau memberi salam setiap dua rakaat dan berwitir satu rakaat, beliau berhenti pada waktu sujudnya selama seseorang membaca 50 ayat sebelum mengangkat kepalanya.</p>
<p>Penjelasan:<br />
Diriwayatkan oleh Muslim II:155 dan Abu Awanah II:326; Abu Dawud I:209; Thahawi I:167; Ahmad II:215, 248. Abu Awanah dan Muslim juga meriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, sedangkan Abu Awanah juga dari Ibnu Abbas.<br />
Mendukung riwayat ini adalah Ibnu Umar juga: Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tentang shalat malam, maka sabdanya: Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Kalau seseorang daripada kamu khawatir masuk waktu Shubuh, cukup dia shalat satu rakaat guna menggajilkan jumlah rakaat yang ia telah kerjakan.</p>
<p>Riwayat Malik I:144, Abu Awanah II:330-331, Bukhari II:382,385, MuslimII:172. Ia menambahkan (Abu Awanah): Maka Ibnu Umar ditanya: Apa yang dimaksud dua rakaat &#8211; dua rakaat itu? Ia menjawab: Bahwasanya memberi salam di tiap dua rakaat.</p>
<p><strong>4. Shalat 11 rakaat yaitu dengan 4 rakaat satu salam, empat rakaat salam lagi, kemudian tiga rakaat. </strong></p>
<p>Haditsnya adalah riwayat Bukhari Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Menurut dhahir haditsnya, beliau duduk di tiap-tiap dua rakaat tetapi tidak memberi salam, demikianlah penafsiran Imam Nawawi.</p>
<p>Yang seperti ini telah diriwayatkan dalam beberapa hadits dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak memberi salam antara dua rakaat dan witir, namun riwayat-riwayat itu lemah, demikianlah yang disebutkan oleh Al-Hafidh Ibnu Nashr, Baihaqi dan Nawawi.</p>
<p><strong>5. Shalat 11 rakaat dengan perincian 8 rakaat yang belaiu tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan tersebut, maka beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, selanjutnya beliau witir satu rakaat, kemudian memberi salam. </strong></p>
<p>Dasarnya adalah hadits Aisyah radliallahu `anha, diriwayatkan oleh Sa’ad bin Hisyam bin Amir. Bahwasanya ia mendatangi Ibnu Abbas dan menanyakan kepadanya tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam maka Ibnu Abbas berkata: Maukah aku tunjukan kepada kamu orang yang paling mengetahui dari seluruh penduduk bumi tentang witirnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: Ia bertanya siapa dia? Ia berkata: Aisyah radlillahu anha, maka datangilah ia dan tanya kepadanya: Maka aku pergi kepadnya, ia berkata: Aku bertanya; Hai Ummul mukminin khabarkan kepadaku tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, Ia menjawab: Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudlunya, maka ia bersiwak dan berwudlu dan shalat sembilan rakaat tidak duduk padanya kecuali pada rakaat yang kedelapan, maka ia mengingat Allah dan memuji-Nya dan bershalawat kepada nabi-Nya dan berdoa, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, kemudian berdiri dan shalat (rakaat) yang kesembilan, kemudian belaiu duduk dan mengingat Allah dan memujinya (attahiyat) dan bershalawat atas nabi-Nya shallallahu `alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian memberi salam dengan salam yang diperdengarkan kepada kami, kemudian shalat dua rakat setelah beliau memberi salam, dan beliau dalam keadaan duduk, maka yang demikian jumlahnya sebelas wahai anakku, maka ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menjadi gemuk, beliau berwitir tujuh rakaat, beliau mengerjakan di dua rakaat sebagaimana yang beliau kerjakan (dengan duduk). Yang demikian jumlahnya sembilan rakaat wahai anakku.</p>
<p>Penjelasan<br />
Diriwayatkan oleh Muslim II:169-170, Abu Awanah II:321-325, Abu Dawud I:210-211, Nasai I/244-250, Ibnu Nashr halaman 49, Baihaqi III:30 dan Ahmad VI:53,54,168.</p>
<p><strong>6. Shalat 9 rakaat, dari jumlah ini, 6 rakaat beliau kerjakan tanpa duduk (attahiyat) kecuali pada rakaat yang keenam tersebut, beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi shallallahu `alaihi wa sallam kemudian beliau bangkit dan tidak memberi salam sedangkan beliau dalam keadaan duduk. </strong></p>
<p>Yang menjadi dasar adalah hadits Aisyah radiyallahu anha seperti telah disebutkan pada cara yang kelima.<br />
Itulah cara-cara shalat malam dan witir yng pernah dikerjakan rasulullah, cara yang lain dari itu bisa juga ditambahkan yang penting tidak melebihi sebelas rakaat. Adapun kurang dari jumlah itu tidak dianggap menyalahi karena yang demikian memang dibolehkan, bahkan berwitir satu rakaatpun juga boleh sebagaimana sabdanya yang lalu:<br />
&#8230;.Maka barang siapa ingin maka ia boleh berwitir 5 rakaat, dan barangsiapa ingin ia boleh berwitir 3 rakaat, dan barangsiapa ingin a boleh berwitir dengan satu rakaat.</p>
<p>Hadits di atas merupakan nash boleh ia berwitir dengan salah saatu dari rakaat-rakaat tersebut, hanya saja seperti yang dinyatakan hadits Aisyah bahwasaya beliau tidk berwitir kurang dari 7 rakaat.</p>
<p>Tentang witir yang lima rakaat dan tiga rakaat dapat dilakukan dengan berbagai cara:<br />
a. Dengan sekali duduk dan sekali salam<br />
b. Duduk attahiyat setiap dua rakaat<br />
c. Memberi salam setiap dua rakaat</p>
<p>Al-Hafidh Muhammad bin Nashr al-Maruzi dalam kitab Qiyamul Lail halaman 119 mengatakan:<br />
Cara yang kami pilih untuk mengerjakan shalat malam, baik Ramadlan atau lainnya adalah dengan memberi salam setiap dua rakaat. Kalau seorang ingin mengerjakan tiga rakaat, maka di rakaat pertama hendaknya membaca surah Sabbihisma Rabbikal A’la dan pada rakaat kedua membaca surah Al-Kafirun, dan bertasyahud dirakaat kedua kemudian memberi salam. Selanjutya bangkit lagi dan shalat satu rakaat, pada rakaat ini dibaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas), setelah itu beliau (Muhammad bin Nashr) menyebutkan cara-cara yang telah diuraikan terdahulu.</p>
<p>Semua cara-cara tersebut boleh dilakukan, hanya saja kami pilih cara yang disebutkan di atas karen didasarkan pada jawaban Nabi shallallahu `alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shalat malam, maka beliau menjawab: bahwa shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jadi kami memilih cara seperti yang beliau pilih.</p>
<p>Adapun tentang witir yang tiga rakaat, tidak kami dapatkan keterangan yang pasti dan terperinci dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bahwasanya beliau tidak memberi salam kecuali pada rakat yang ketiga, seperti yang disebutkan tentang Witir lima rakaat, tujuh dan sembilan rakaat. Yang kami dapati adalah bahw beliau berwitir tiga rakaat dengan tidak disebutkan tentang salam sedangkan tidak disebutkan itu tidak dapat diartikan bahwa beliau tidak mengerjakan, bahkan mungkin beliau melakukannya.</p>
<p>Yang jelas tentang pelaksanaan yang tiga rakaat ini mengandung beberapa ihtimaalat (kemungkinan), diantaranya kemungkinan beliau justru memberi salam, karena demikialah yang kami tafsirkan dari shalat beliau yang sepuluh rakaat, meskipun di sana tidak diceritakan tentang adanya salam setiap dua rakaat, tapi berdasar keumuman sabdanya bahwa asal shalat malam atau siang itu adalah dua rakaat, dua rakaat.</p>
<p>Sedangkan hadits Ubai bin Ka’ab yang sering dijadikan dasar tidak adanya salam kecuali pada rakaat yang ketiga (laa yusallimu illa fii akhirihinna), ternyata tambahan ini tidak dapat dipakai, karena Abdul Aziz bin Khalid bersendiri dengan tambahan tersebut, sedangkan Abdul Aziz ini, tidak dianggap tsiqah oleh ulama Hadits. Dalam at-Taqrib dinyatakan bahwa dia maqbul apabila ada mutaba’ah (hadits lain yang mengiringi), kalau tidak ia termasuk Layyinul Hadits. Di samping itu tambahan riwayatnya menyalahi riwayat dari Sa’id bin Abi Urubah yang tanpa tambahan tersebut. Ibnu Nashr, Nasai dan Daruqutni juga meriwayatkan tanpa tambahan. Dengan ini, jelas bahwa tambahan tersebut adalah munkar dan tidak dapat dijadikan hujjah.</p>
<p>Tapi walaupun demikian diriwayatkan bahwa shahabat-shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan witir tiga rakaat dengan tanpa memberi salam kecuali pada rakaat yang terakhir dan ittiba’ kepada mereka ini lebih baik baik daripada mengerjakan yang tidak dicontohkan.</p>
<p>Dari sisi lain perlu juga diketengahkan bahwa terdapat banyak riwayat baik dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, para shahabat ataupun tabi’in yaang menunjukan tidak disukainya shalat witir tiga rakaat, diantaranya: Janganlah engkau mengerjakan witir tiga rakaat yang menyerupai Maghrib, tetapi hendaklah engkau berwitir lima rakaat (HR. Al-Baihaqi).<br />
Hadits ini tidak dapat dipakai karena mempunyai kelemahan pada sanadnya, tapi Thahawi meriwayatkan hadits ini melalui jalan lain dengan sanad yang shahih. Adapun maksudnya adalah melarang witir tiga rakaat apabila menyerupai Maghrib yaitu dengan dua tasyahud, namun kalau witir tiga rakaat dengan tidak pakai tasyahud awwal, maka yang demikian tidak dapat dikatakan menyerupai. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari II:385 dan dianggap baik oleh Shan’aani dalam Subulus Salam II:8.</p>
<p>Kesimpulan dari yang kami uraikan di atas bahwa semua cara witir yang disebutkan di atas adalah baik, hanya perlu dinyatakan bahwa witir tiga rakaat dengan dua kali tasyahhud tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bahkan yang demikian tidak luput dari kesalaahan, oleh karenanya kami memilih untuk tidak duduk di rakaat genap (kedua), kalau duduk berarti memberi salaam, dan cara ini adalah yang lebih utama</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=40&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/beberapa-cara-shalat-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Taqdir</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/iman-kepada-taqdir/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/iman-kepada-taqdir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:46:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Iman Kepada Taqdir Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun Iman yang harus dipahami dan diyakini dengan benar. Berikut ulasan Syaikh Mohammad bin Shalih Utsaimin di dalam Syarh Tsalatsatil Ushul. Qadar yaitu ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap makhluk-Nya, sesuai dengan ilmu dan hikmah yang dikehendak-Nya. UNSUR-UNSUR IMAN KEPADA TAKDIR Beriman terhadap qadar atau takdir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=35&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">Iman Kepada Taqdir</p>
<p class="MsoNormal"><span class="smalltype">Iman kepada takdir merupakan salah<br />
satu rukun Iman yang harus dipahami dan diyakini dengan benar. Berikut ulasan<br />
Syaikh Mohammad bin Shalih Utsaimin di dalam Syarh Tsalatsatil Ushul. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Qadar yaitu ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap<br />
makhluk-Nya, sesuai dengan ilmu dan hikmah yang dikehendak-Nya. <span id="more-35"></span></p>
<p><strong>UNSUR-UNSUR IMAN KEPADA TAKDIR</strong><br />
Beriman terhadap qadar atau takdir mengandung empat unsur:</p>
<p><strong>Pertama</strong><br />
Beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara rinci dan global sejak<br />
zaman dulu dan azali, baik yang berhubungan dengan pekerjaan Dzat-Nya maupun<br />
hamba-Nya.</p>
<p><strong>Kedua</strong><br />
Beriman bahwa Allah menulis semua ketentuan <em>(qadar)</em> tersebut di <em>Lauh<br />
Mahfuzh.</em></p>
<p>Untuk dua hal ini Allah berfirman,<br />
<em>&#8221;Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja<br />
yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikaan itu terdapat dalam sebuah<br />
kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.&#8221;<br />
(Al-Hajj: 70).</em></p>
<p>Dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu&#8217;anhuma berkata,<br />
<em>&#8221;Saya mendengar Rasulullah bersabda, &#8216;Allah telah menulis ketentuan seluruh<br />
makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi selang waktu lima puluh ribu<br />
tahun.&#8221; (HR. Muslim)</em></p>
<p><strong>Ketiga</strong><br />
Beriman bahwa semua yang ada di alam tidak ada kecuali atas kehendak Allah,<br />
baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya atau perbuatan ciptaan-Nya.</p>
<p>Firman Allah yang berhubungan dengan perbuatan-Nya,<br />
<em>&#8221;Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan<br />
memilihnya.&#8221;(Al-Qashash:68).</em></p>
<p><em>&#8221;Dan Allah membuat apa saja yang Ia kehendaki.&#8221;(Ibrahim: 27)</em></p>
<p><em>&#8221;Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.&#8221; (Ali<br />
Imran:6).</em></p>
<p>Adapun yang berhubungan dengan perbuatan hamba-Nya, Allah berfirman<br />
<em>&#8221;Kalau menghendaki tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu,<br />
lalu pastilah mereka memerangimu.&#8221;(An-Nisa&#8217;: 90).</em></p>
<p><em>&#8221;Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka<br />
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.&#8221;(Al-An&#8217;am:112).</em></p>
<p><strong>Keempat</strong><br />
Beriman bahwa segala makhluk yang ada adalah ciptaan Allah, baik dzatnya,<br />
sifatnya maupun gerakannya.</p>
<p>Firman Allah<br />
<em>&#8221;Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala<br />
sesuatu.&#8221;(Az-Zumar: 62).</em></p>
<p>Firman Allah tentang pribadi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam<br />
<em>&#8221;Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu<br />
perbuat.&#8221;(Ash-Shaffat: 96)</em></p>
<p>Firman Allah<br />
<em>&#8221;Dan Dialah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran-ukurannya<br />
dengan serapi-rapinya.&#8221; (Al-Furqan: 2)</em></p>
<p><strong>BERIMAN KEPADA TAKDIR TIDAK MENAFIKAN KEHENDAK MAKHLUK</strong><br />
Beriman terhadap qadar (takdir) seperti yang telah kita jelaskan tidak<br />
menafikan bahwa hamba memiliki kehendak untuk memilih sesuatu perbuatan karena<br />
secara dalil <em>naqli</em> dan <em>aqli</em> menunjukkan hal itu.</p>
<p><strong>Dalil syar&#8217;i (naql)</strong><br />
Allah berfirman menjelaskan bahwa manusia memiliki kehendak<br />
<em>&#8221;Maka barangsiapa siapa menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada<br />
Tuhannya&#8221; (An-Naba&#8217;: 39)</em></p>
<p><em>&#8221;Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka<br />
datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.&#8221;<br />
(Al-Baqarah: 223).</em></p>
<p><em>&#8221;Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah<br />
serta taatlah&#8221; (At-Taghabun:16).</em></p>
<p>Firman-Nya<br />
<em>&#8221;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia<br />
mendapat pahata (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari<br />
kejahatan) yang dikerjakannya.&#8221; (Al Baqarah: 286).</em></p>
<p><strong>Secara Fakta</strong><br />
Setiap orang mengetahui bahwa ia memiliki kehendak dan kemampuan untuk<br />
mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan. Ia sendiri bisa membedakan<br />
antara perbuatan yang ia lakukan dengan kehendaknya, seperti berjalan dengan<br />
perbuatan yang terjadi di luar kehendak, seperti gemetar. Akan tetapi kehendak<br />
dan kemampuan hamba tersebut terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah, karena<br />
Allah berfirman<br />
<em>&#8221;(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus dan<br />
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki<br />
Allah, Tuhan semesta-alam.&#8221; (At-Takwir: 28-29).</em></p>
<p>Setiap yang ada di alam adalah milik Allah dan tidak mungkin sesuatu yang<br />
menjadi hak milik-Nya terjadi tanpa sepengetahuan dan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>IMAN KEPADA TAKDIR BUKAN DALIH DIBOLEHKANNYA MELAKUKAN MAKSIAT</strong><br />
Beriman terhadap qadar (takdir) bukan berarti menjadi alasan untuk meninggalkan<br />
kewajiban atau mengerjakan kemaksiatan. Siapa yang menjadikan takdir sebagai<br />
alasan untuk meninggalkan kewajiban atau mengerjakan kemaksiatan maka hujjah<br />
dan alasan tersebut batal karena hal-hal dibawah ini:</p>
<p><strong>Pertama</strong><br />
Firman Allah:<br />
<em>&#8221;Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan mengatakan, &#8216;Jika Allah<br />
menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan<br />
tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun&#8217;. Demikian pulalah<br />
orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka<br />
merasakan siksaan Kami. Katakanlah, &#8216;Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan<br />
sehingga kamu dapat mengemukakan kepada kami? Kamu tidak mengikuti kecuali<br />
persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.&#8221;(Al-An&#8217;am:148).</em></p>
<p>Seandainya alasan mereka dalam ayat ini benar pasti Allah tidak mengadzab<br />
mereka.</p>
<p><strong>Kedua</strong><br />
Firman Allah<br />
<em>&#8221;(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi<br />
peringatan supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah<br />
diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221;<br />
(An-Nisa&#8217;:165).</em></p>
<p>Jika takdir dibenarkan untuk menjadi alasan mereka yang membangkang para rasul,<br />
maka hujah dan alasan tersebut tidak ditiadakan setelah datang rasul-rasul<br />
tersebut karena pembangkangan mereka setelah diutusnya rasul juga terjadi atas<br />
takdir dan ketentuan Allah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong><br />
Hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dan lafazh dari riwayat Imam<br />
al-Bukhari dari Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya Nabi bersabda.<br />
<em>&#8221;Setiap orang dari kalian telah ditentukan tempatnya di Surga atau di<br />
Neraka. Seseorang bertanya, &#8216;Kenapa kita tidak pasrah saja, wahai Rasulullah?&#8217;<br />
Beliau menjawab: &#8216;Jangan, akan tetapi berbuatlah karena masing-masing akan<br />
dimudahkan”. Kemudian beliau membaca ayat, &#8216;Adapun orang yang memberikan<br />
(hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.&#8221; (AI-Lail: 5)</em></p>
<p>Dalam riwayat Muslim dengan lafahz<br />
<em>&#8221;Masing-masing dimudahkan sesuai takdirnya.&#8221;</em><br />
Maka Rasulullah memerintahkan untuk berbuat dan melarang pasrah kepada takdir.</p>
<p><strong>Keempat</strong><br />
Allah melarang dan memerintah hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya dan tidak<br />
membebankan kepadanya kecuali yang dia sanggup.</p>
<p>Firman Allah<br />
<em>&#8221;Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu.&#8221; (At-Taghabun:l6).</em></p>
<p>Firman-Nya<br />
<em>&#8221;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan<br />
kesanggupunnya.&#8221;(Al-Baqarah: 286)</em></p>
<p>Jika seorang hamba melakukan perbuatan dengan terpaksa, tentu ia akan<br />
mendapatkan beban yang tidak mungkin ia bisa lepas darinya. Ini jelas tidak<br />
benar.</p>
<p>Oleh karena itu jika ia berbuat sesuatu maksiat karena bodoh, lupa atau dipaksa<br />
maka ia tidak berdosa.</p>
<p><strong>Kelima</strong><br />
Qadar (takdir) Allah adalah suatu rahasia yang tidak bisa diketahui, kecuali<br />
setelah terjadi. Kehendak manusia untuk berbuat dan melakukan tindakan<br />
mendahului perbuatannya, ini berarti kehendaknya untuk berbuat dan melakukannya<br />
ada sebelum ia tahu tentang takdir Allah tersebut, maka batallah hujjahnya<br />
dengan takdir tersebut, karena tidak dibenarkan seseorang berdalih dengan<br />
sesuatu yang tidak ia ketahui.</p>
<p><strong>Keenam</strong><br />
Dalam hal keduniawian setiap orang berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang<br />
menyenangkan hati dan tak seorang pun yang ingin mendapatkan kepahitan dunia<br />
lalu berdalih dengan takdir, tetapi kenapa di saat ia ingin berbuat<br />
kemudharatan dalam masalah agama dan akhiratnya kemudian berdalih dengan<br />
takdir? Bukankah keduanya sama?</p>
<p>Suatu contoh,<br />
Jika seseorang di hadapannya ada pilihan dua jalan. Jalan yang satu menuju<br />
negeri yang kacau den tidak aman, banyak terjadi pembunuhan, perampokan,<br />
pemerkosaan, kelaparan dan segala yang menakutkan sedang jalan lainnya menuju<br />
negeri yang aman, tertib, tenang penuh kedamaian dan keselamatan bagi<br />
kehormatan, harta benda serta jiwa. Jalan manakah yang akan ia tempuh? Ia pasti<br />
memilih jalan yang kedua, jalan aman yang mengantarkannya menuju negeri yang<br />
aman dan tertib. Tidak mungkin bagi orang yang berakal sehat memilih jalan yang<br />
menuju negeri yang kacau dan menakutkan lalu berdalih dengan takdir. Kenapa ia<br />
memilih dalam perkara akhirat jalan Neraka bukannya jalan Surga lalu berdalih<br />
dengan takdir?</p>
<p>Contoh lain<br />
Orang sakit yang disuruh dokter minum obat pahit yang berlawanan dengan<br />
keinginan nafsunya dan ia dilarang memakan suatu makanan yang membahayakan<br />
kesehatannya sementara nafsunya sangat menginginkan. Semua ini dalam rangka<br />
mendapatkan kesembuhan dan kesehatan tubuh. Tidak mungkin ia menolak meminum<br />
obat atau memakan makanan yang dilarang oleh dokter tersebut lalu berdalih<br />
dengan takdir. Tapi kenapa di saat ia menolak perintah Allah dan Rasul-Nya atau<br />
mengerjakan larangan Allah dan Rasul-Nya ia berdalih dengan takdir?</p>
<p><strong>Ketujuh</strong><br />
Jika orang yang berdalih dengan takdir di saat melanggar kewajiban atau<br />
mengerjakan kemaksiatan diganggu hak dan kehormatannya oleh orang lain dengan<br />
dalih takdir dan orang itu mengatakan, Jangan salahkan saya jika saya<br />
mengganggu hak dan kehormataan Anda karena semua ini terjadi atas takdir Allah,<br />
pasti ia tidak akan menerima alasan tersebut. Kenapa ia tidak bisa menerima<br />
alasan tersebut jika ia yang diganggu dan dinodai hak dan kehormatannya,<br />
sementara ia membuat alasan yang sama dalam melanggar hak Allah?</p>
<p>Disebutkan dalam suatu riwayat dari Umar bin Khathab bahwa beliau pernah<br />
memotong tangan pencuri, maka pencuri tersebut berkata: Sebentar, wahai Amirul<br />
Mukminin, Sebetulnya saya mencuri ini atas takdir Allah. Umar menjawab: Kami<br />
memotong tanganmu ini juga karena takdir Allah.</p>
<p><strong>BUAH BERIMAN KEPADA TAKDIR</strong><br />
Beriman terhadap qadar (takdir) membuahkan basil yang sangat besar:</p>
<p><strong>Pertama</strong><br />
Bersandar kepada Allah disaat melakukan usaha, tidak bersandar pada hukum sebab<br />
akibat semata karena segala sesuatu yang terjadi atas takdir dan kehendak<br />
Allah.</p>
<p><strong>Kedua</strong><br />
Seseorang menjadi tidak bangga diri di saat mendapatkan keinginannya karena<br />
seluruhnya pemberian dan karunia Allah. Sebab bangga diri akan membuat<br />
seseorang lalai untuk mensyukuri nikmat Allah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong><br />
Merasa tenang dan tentram jiwanya dalam menghadapi segala yang terjadi pada<br />
dirinya dan tidak merasa gundah dan gelisah di saat ditimpa musibah atau<br />
kehilangan sesuatu yang dicintainya. Karena hal itu terjadi atas kehendak dan<br />
takdir Allah yang menguasai langit dan bumi, semua yang Dia kehendaki pasti terjadi.</p>
<p>Firman Allah:<br />
<em>&#8221;Tiada suatu musibahpun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirmu<br />
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami<br />
menciptakannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami<br />
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang<br />
luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang<br />
diberikan kepadamu dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi<br />
membanggakan diri&#8221; (Al-Hadid:22-23)</em></p>
<p>Nabi bersabda:<br />
<em>&#8221;Sungguh menakjubkan segala urusan orang mukmin, seluruhnya baik, yang itu<br />
tidak terjadi kecuali pada diri orang mukmin. Jika ia mendapatkan kenikmatan<br />
lalu bersyukur maka itu baik baginya, jika tertimpa musibah lalu bersabar maka<br />
itu juga baik baginya.&#8221;(HR. Muslim)</em></p>
<p>Diambil dari Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=35&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/iman-kepada-taqdir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memakai jam tangan sunnahnya di tangan kanan</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/mengapa-engkau-melalaikannya-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/mengapa-engkau-melalaikannya-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:37:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Memakai jam tangan sunnahnya di tangan kanan Syaikh Al-Bany ditanya: Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, apa dalilnya? Syaikh Al-Bany ditanya: Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, apa dalilnya? Jawaban: Kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=27&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Memakai jam tangan sunnahnya di tangan kanan</strong></p>
<p><span class="smalltype">Syaikh Al-Bany ditanya:<br />
Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, apa dalilnya?</span><span id="more-27"></span></p>
<p><strong>Syaikh Al-Bany ditanya:</strong><br />
Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, apa dalilnya?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Kami berpegang teguh dalam masalah ini dengan kaidah umum yang terdapat dalam hadits Aisyah di dalam Ash Shahih, ia berkata:<br />
<em><br />
Rasulullah menyukai menggunakan (mendahulukan) kanan dalam segala sesuatu, yaitu ketika bersisir, bersuci, dan dalam setiap urusan.</em></p>
<p>Dan kami tambahkan dalam hal ini, hadits lain yang diriwayatkan dalam Ash Shahih, bahwa beliau bersabda:</p>
<p><em>Sesungguhnya Yahudi tidak mencelup (menyemir) rambut-rambut mereka, karena itu berbedalah dengan mereka, dengan cara menyemir rambut kalian.</em></p>
<p>Juga hadits-hadits yang lain yang di dalamnya terdapat perintah untuk berbeda dengan musyrikin.</p>
<p>Maka dari hadits-hadits tersebut dapat kami simpulkan bahwa disunnahkan bagi seorang muslim untuk bersemangat dalam membedakan diri dengan orang-orang kafir.</p>
<p>Dan sepatutnyalah untuk kita ingat bahwa membedakan diri dari orang kafir, mengandung arti bahwa kita dilarang mengikuti adat kebiasaan mereka. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai orang kafir, dan sudah selayaknya bagi kita wntuk selalu tampil beda dengan orang-orang kafir.</p>
<p>Di antara adat kebiasaan orang kafir adalah memakai jam tangan di tangan kiri, padahal kita mendapatkan pintu yang teramat luas di dalam syariat untuk menyelisihi adat ini. Walhasil mengenakan jam tangan di tangan kanan merupakan pelaksanaan kaidah umum, yaitu (mendahulukan) yang kanan, dan juga kaidah umum yang lain yaitu membedakan diri dengan orang-orang kafir.</p>
<p>Diambil dari Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albany, Penerbit: Media Hidayah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=27&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/mengapa-engkau-melalaikannya-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepribadian Dakwah</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/kepribadian-dakwah/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/kepribadian-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Kepribadian Dakwah Hari ini merupakan hari-hari perjuangan, berjuang untuk menunaikan tugas dakwah yang mulia. Tugas yang tak pernah usai seiring perjalanan waktu. Malah semakin bergulirnya waktu semakin bermunculan tugas baru. Sebagaimana komentar seorang pujangga, &#8216;terbitnya fajar, merekahkan harapan cerah dan membawa sekelumit beban&#8217;. Akan tetapi bagi seorang aktivis dakwah waktu menjadi jalannya kehidupan. Sehingga kader [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=25&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Kepribadian Dakwah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Hari ini merupakan hari-hari perjuangan, berjuang untuk menunaikan tugas dakwah yang mulia. Tugas yang tak pernah usai seiring perjalanan waktu. Malah semakin bergulirnya waktu semakin bermunculan tugas baru. Sebagaimana komentar seorang pujangga, &#8216;terbitnya fajar, merekahkan harapan cerah dan membawa sekelumit beban&#8217;. Akan tetapi bagi seorang aktivis dakwah waktu menjadi jalannya kehidupan. Sehingga kader dakwah selalu menata waktunya demi kehidupan yang ia jalani agar senantiasa siap menyongsong tugas yang ada dihadapannya. </span></span><span id="more-25"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Bukanlah sesuatu yang dipungkiri bahwa tugas dakwah memang bukanlah tugas yang ringan. Ia banyak liku dan kendala yang rumit. Baik dari pihak eksternal ataupun dari internal sendiri. Terkadang tugas dakwah menjadi beban berat untuk dipikul. Terlebih lagi bagi mereka yang berkepribadian rentan dan rapuh. Tugas itu menjadi tembok besar yang teramat sulit untuk dilewati. Mereka akan berkecil hati menatap tugas demi tugas. Terasa berat untuk menggerakan kaki dan tangan menerima tugas tersebut. </span></span><br />
<span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Namun tidak demikian bagi kader pilihan. Mereka akan berupaya maksimal untuk dapat menunaikan tugas mulia itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan kader yang berkepribadian amal da&#8217;awy akan menyongsongnya dengan gembira. Tidak ada dalam diri mereka, kamus lelah dan ciut menyambut tugas. Karena tugas itu akan menjadi momen untuk mengukir sejarah hidupnya dengan tinta emas bagi kemenangan dakwah ini. Ia menjadi mulia bersama dakwah atau mati dengan keharuman sikap perilakunya dalam amal Islam. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Ketika Syaikh Mutawalli Sya&#8217;rawi menyampaikan pidatonya dalam suatu acara, bahwa amanah umat ini teramat berat. Karena kompleksitas masalah yang dihadapinya. Dan disertai penghalangnya dari musuh-musuh umat yang tidak pernah henti untuk menghancurkannya. Disamping itu kader dakwah yang memandu amanah ini sulit untuk didapatkan. Maka kepada siapa amanah umat ini diserahkan?. Hasan Al Banna bergumam dalam hatinya ketika mendengar ceramah sang Syaikh, &#8216;aku ingin, akulah orangnya yang akan mengemban amanah itu. Beginilah sikap kader dakwah yang brilian dalam menyambut tugasnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Menyikapi kenyataan ini bahwa tugas dakwah dan kepribadian kader merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dimana keduanya saling mempengaruhi. Maka perlu disadari pada seluruh kader untuk membangun dirinya agar menjadi kader-kader pilihan yang sanggup memikul tugas dakwah ini dengan hati lapang. Sehingga tugas demi tugas dapat tertunaikan dengan baik. Bila kader dakwah tidak lengah dalam masalah ini dan selalu berusaha untuk meningkatkan kepribadian dirinya dalam mengemban amanah ini maka ia dapat menaklukan dunia sebagaimana obsesi Imam Hasan Al Banna Rahimahullah. Sang Imam pernah mengungkapkan obsesinya dalam Risalahnya Kepada Pemuda, bahwa ia bisa menaklukan dunia dengan kader-kader pilihan dibawah binaannya. &#8216;Siapkan 12 ribu kader, aku akan bina mereka dan aku akan taklukan dunia dengan bersama mereka&#8217;. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Melalui pemahaman ini upaya untuk meningkatkan kepribadian diri dalam mengemban tugas dakwah ini menjadi perilaku harian bagi kader dakwah. Tidak boleh ada kesempatan yang terbuang dan tidak terpakai untuk agenda ini. Agar kepribadiannya tidak melempem, tidak pula mendua tetapi kepribadian yang tangguh dan ulet dalam amal dakwah. Selayaknya setiap kader menata dirinya dengan sungguh-sungguh agar dapat merealisasikan obsesi sang Imam. Untuk itu para kader dakwah perlu menyiapkan diri agar memiliki kepribadian yang dapat menuntaskan tugas dakwah dan merealisaikannya: </span></span></p>
<p><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">1. Membangun Ruh Keghairahan (Bina ruhil ghirah) </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Menyadari banyaknya tugas dakwah yang perlu diemban kader dakwah harus membangun keghairahannya. Keghairahan untuk terus berbuat dan berjuang demi tegaknya dakwah. Sehingga semangatnya berkobar-kobar. Tidak pernah lemah sedikitpun dalam menghadapi rintangan. Tidak pernah layu dengan bergulirnya zaman. Tidak pernah gentar karena tantangan. Ia bagaikan batu karang di tengah lautan yang kokoh menghadapi terjangan ombak. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Abul &#8216;Ala Al Maududi mengingatkan kader-kadernya, &#8216;bila kalian menyambut tugas dakwah ini tidak sebagaimana sikap kalian terhadap tugas yang menyangkut urusan pribadi kalian maka dakwah ini akan mengalami kekalahan yang telak. Oleh karena itu sambutlah tugas ini dengan ghairah&#8217;. Amatlah tepat taujih Abul &#8216;Ala Al Maududi ini bila melihat sederetan tugas dan harapan umat. Bila saja kader dakwah memahami dengan betul maka mereka akan berupaya untuk menjaga keghairahannya agar tidak pernah redup sedikitpun. Karena ia akan berakibat fatal dalam menunaikan tugas ini. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Sebaliknya jiwa yang berghairah dalam menyambut tugas-tugasnya akan mudah untuk menyelesaikannya. Ia bahkan dapat menemukan celah-celah sempit untuk menjadi peluang besar yang akan menjadi menyebab kemenangan dakwah ini. Ia tidak pernah mundur tatkala bahaya menghadang. Ia tidak lelah ketika peluh bercucuran. Yang ada dalam benaknya adalah kami siap mengembannya untuk sebuah kemenangan. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim&#8221;.. (QS. Ali Imran: 139 – 140). </span></em></span><em><br />
</em><br />
<span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Karena itu sepantasnya bagi kader untuk selalu berusaha meningkatkan ghairahnya melalui amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW. sehingga ghairahnya tidak kendur. Apakah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, mengkaji sejarah kepahlawanan Islam, membayangkan pahala dan balasan yang dijanjikan Allah SWT., bercermin dari kehidupan kader-kader daerah terpencil yang sangat bersemangat untuk menyebarluaskan dakwah ini ataupun dengan kiat-kiat lainnya. Amalan tersebut menjadi bahan bakar untuk semangatnya agar selalu bergelora. </span></span><br />
<span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan &#8216;gelorakan semangatmu wahai ikhwah dan jangan kendur sedikitpun marilah maju bersama kafilah dakwah ini. Siapa yang tidak lagi bersemangat maka janganlah ikut barisan kami&#8217;. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">2. Membangkitkan semangat inisiatif (Tasyji&#8217;u ruhil mubadarah) </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Memahami tugas dakwah yang rumit maka setiap kader hendaknya selalu membangkitkan semangat berinisiatif. Agar dapat mensikapi dengan cepat apa yang sedang dihadapi dakwah ini. Tentu dengan mengacu pada kententuan syar’i. Sehingga aktivis dakwah tidak linglung dan bingung untuk segera berbuat atas sesuatu yang perlu segera disikapi. Selayaknya seorang kader tidak pernah mati inisiatifnya. Ia selalu berinisiatif untuk membela dakwah dengan berbagai potensi yang ada pada dirinya. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Seorang pujangga mengingatkan bahwa matinya inisiatif akan menutup banyak peluang. Malah ia melihat apa yang dihadapannya menjadi momok yang menakutkan. Ia akan menjadi orang yang penakut pada sesuatu yang belum terjadi bahkan ia sudah membayangkan dengan bayang-bayang hitam yang sangat mengerikan. Umat dan dakwah ini akan gembira terhadap kader yang kaya inisiatif. Sebagaimana gembiranya orang tua pada anaknya yang berinisiatif tinggi. Sang anak menyemirkan sepatu ayahnya ketika sang ayah hendak berangkat kerja. Ia suguhkan air minum hangat untuk ayahnya yang baru tiba. Ia rapikan belanjaan ibunya ketika datang dari pasar. Ia bersihkan alat-alat masaknya dan lain sebagainya. Orang tua akan sangat senang dengan perilaku anaknya dan ia akan banggakan dihadapan saudara dan tetangganya. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Syaikh Sayid Muhammad Nuh menceritakan murabbinya Syaikh Abbas Asisi yang selalu kaya inisiatif dalam berdakwah. Beliau bukan hanya kaya akan ide dan gagasan tetapi kaya pula dengan sikap dan perbuatannya. Hingga banyak orang yang tertautkan hatinya pada dakwah karena inisiatifnya yang teramat tinggi. Ada pemuda yang tertarik pada dakwah karena ia menyebut namanya yang telah ia hafal. Ada pula orang yang berjiwa kasar menjadi pengikut dakwah lantaran ia buka dengan dialog-dialog yang menarik. Dan masih banyak lagi kisah lainnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Kader yang berinisiatif tidak hanya semata mengandalkan point-point buku manual melainkan ia juga dapat melakukan sesuatu dengan tepat dan benar sesuai masanya yang sedang dihadapinya. Inisiatif memang tidak lahir begitu saja. Ia selalu beriringan dengan kebiasaannya untuk berbuat. Kebiasaan berbuat dapat menerobos celah sekecil apapun untuk menemukan hal-hal baru. Oleh karena itu Allah SWT. merintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berbuat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Dan katakanlah: &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.(QS. At Taubah: 105). </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">3. Membangun jiwa tanggung jawab terhadap dakwah (Bina ruhil mas’uliyah) </span></strong></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Tanggung jawab kader terhadap dakwah tidak boleh berkurang. Kader hendaknya selalu membangun rasa tanggung jawabnya setiap saat. Berkurangnya tanggung jawab kader pada dakwah ini dapat memporak-porandakan amanah umat ini. Kader yang bertanggung jawab pada tugas tidak bisa bersantai-santai/beruncang kaki sementara kader lainnya sedang sibuk menunaikan tugas. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Jiwa tanggung jawab ini sangat dikaitkan dengan keimanan yang melekat padanya. Juga dikaitkan dengan kesertaannya menjadi umat Muhammad SAW. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., &#8216;Bukanlah golongan kami orang yang tidak punya perhatian terhadap urusan kaum muslimin&#8217;. (HR. Bukhari). Sangatlah logis bila tanggung jawab terhadap dakwah ini berhubungan erat dengan kesertaannya sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Karena merekalah yang bertanggung jawab langsung terhadap kesinambungan dakwah ini. Tersebar luas dakwah ini atau tidak ada pada pundak mereka. Mereka yang menjadi pelanjut dakwah ini telah mendekatkan dirinya dengan para Nabi. Lantaran mereka telah melaksanakan hal yang sama dilakukan para Nabi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Kader dakwah yang bertanggung jawab pada tugas kadang tidak bisa tidur nyenyak. Ia senantiasa berpikir keras untuk untuk kemajuan dakwah. Ia merasa malu bila tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa sedih bila dakwah tidak berkembang. Ia sangat senang kalau dakwah ini menggeliat dan meraih banyak pengikut. Ia risih bila meninggalkan tugas yang masih berceceran di sana-sini. Dan ia akan senantiasa siap menyongsong tugasnya. Wajarlah bila Imam Hasan Al Banna memandang sikap kader yang tidak bertanggung jawab pada tugasnya sebagai perbuatan dosa. Oleh karena itu kader dakwah dalam menyongsong tugas mulianya seperti pengikut Nabi Isa AS. yang setia. Merekalah kaum Hawariyun sangat peka pada tanggung jawab dan tugasnya. Sebagaimana firman Allah SWT.: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: &#8220;Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?&#8221; Para Hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: &#8220;Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri&#8221;. (QS. Ali Imran: 52). </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">4. Membangkitkan semangat pengorbanan (Tarqiyatu ruhil badzli wat tadhhiyah) </span></strong></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Pengorbanan dan perjuangan sesuatu yang niscaya. Perjuangan tidak dapat dipisahkan dengan pengorbanan. Dakwah suci ini bergerak dengan deras karena pengorbanan para kadernya. Maka semangat pengorbanan harus terus hidup di hati kader dakwah agar menjadi kepribadian mereka yang sesungguhnya. Sehingga mereka akan selalu terdepan dalam pemgorbanan. Karenanya tidak ada dalam sejarah sebuah perjuangan ideologi yang dibangun tanpa perjuangan. Maka sudah menjadi suatu keharusan untuk berkorban dengan apa yang ada padanya demi tegaknya dakwah mulia ini. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Kader-kader yang siap berkorban menjadi syarat mutlak untuk suatu kemenangan. Dengan jiwa ini jalan mencapainya menjadi mulus. Perjalanan meraih kemenangan bak tanpa hambatan. Adalah hal patut bagi seluruh kader dakwah memberikan sesuatu yang amat diperlukan dakwah ini. Ini menjadi tanda keringanan dirinya untuk berkorban. Dalam berkorban untuk dakwah tidak pernah terbetik untuk menolaknya. Bahkan sedapat mungkin memberikan apa yang sangat berharga dalam dirinya. Jiwa dan raga. Semangat semacam inilah yang melancarkan futuhat dakwah di berbagai negeri. Termasuk ketika menaklukan Romawi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Khalid bin Walid RA. ditanya pembesar Romawi perihal kepahlawanan kaum muslimin sehingga mereka bisa menaklukkan Romawi. Panglima Khalid RA. menjawab, &#8216;Kami dapat berada di depan mata kalian dan menaklukkan negeri kalian karena kami datang bersama orang-orang yang cinta mati sebagaimana kalian mencintai hidup&#8217;. Tentunya pengorbanan semacam ini pengorbanan yang maksimal. Memang Allah SWT. hanya menerima pengorbanan hamba-Nya yang maksimal. Seperti dalam Firman-Nya. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): &#8220;Aku pasti membunuhmu!&#8221; Berkata Habil: &#8220;Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa&#8221;. (QS. Al Maidah: 27). </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid mengingatkan bahwa dalam perjalanan dakwah ini janganlah bersikap seperti umat Nabi Musa yang duduk-duduk berdiam diri saja menunggu datangnya kemenangan dari perjuangan Nabinya. Akan tetapi berbuat banyaklah untuk jalan dakwah ini dengan senantiasa selalu berkorban dan tidak pernah kendur semangatnya untuk berkorban. Memang semestinya demikian. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Tentu saja semangat berkorban ini tidak akan kendur manakala sikap kepatuhan kader pada ajaran ini tidak berkurang secuilpun. Mereka mematuhi ketentuan yang sudah seharusnya dijalankan. Mereka mengokohkan ruh maknawiyahnya setiap saat. Mereka berada dalam stamina spiritual yang prima. Said Hawwa menegaskan bahwa pengorbanan merupakan kepatuhan dan kepatuhan adalah syarat kemenangan. Maka siapkanlah sarana-sarana kemenangan dengan meningkatkan semangat berkorban terus menerus agar kemenenagan menjadi kenyataan yang dekat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">5. Meningkatkan potensi diri (Tarqiyatu ath-Thaqah adz-Dzatiyah) </span></strong></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Untuk dapat melaksanakan tugas mulia ini kader dakwah mesti menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan potensi dirinya. Agar ia bisa memberikan apa saja yang dibutuhkan dakwah ini. Meningkatkan potensi diri berawal dari penggalian potensi dan penajamannya. Adalah kemestian bagi kader untuk dapat mengenali potensinya. Sehingga ia tahu betul kemampuannya selaras dengan keperluan dakwah ini. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Menyadari kedudukan potensi kader bagi kelangsungan dakwah ini amat berarti maka para kader perlu mencermati dan mempertajamnya. Karena apapun potensi yang dimilikinya sangat berguna bagi dakwah ini. Sekalipun seperti butiran pasir. Memang secara fisik sebutir pasir sangat kecil adanya. Dan bila dibandingkan dengan material lainnya dalam sebuah bangunan terasa begitu amat sangat kecil. Tampaknya ia bukanlah unsur penentu dalam kekokohan bangunan tersebut. Betul adanya asumsi ini bila satu butir pasir saja yang berpandangan demikian. Akan tetapi jika seluruh butiran pasir beranggapan sama maka rubuhlah bangunan tersebut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Karena itu kader dakwah tidaklah boleh memandang remeh terhadap berbagai potensi yang diberikan kader lainnya. Malah harus menghargai potensi-potensi tersebut dan menyemangati untuk berupaya terus meningkatkannya. Sebab Allah SWT. menyukai orang-orang yang dapat ikut serta dalam barisan dakwah ini dengan potensi yang diberikan-Nya. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Katakanlah: &#8220;Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing&#8221;. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya&#8221;. (QS. Al Isra&#8217;: 84) </span></em></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Sedapat mungkin setiap waktu yang bergulir potensi kader semakin tajam. Seiring berjalannya waktu potensi kualitas kader semakin membaik. Seperti ungkapan seorang ulama tatkala berjumpa dengan temannya menyatakan &#8216;tidak aku temukan dalam dirinya setiap berlalunya waktu kecuali semakin membaik kepribadiannya&#8217;. Bila kondisi ini menjadi watak dan kepribadian para kader dakwah. Tidak mustahil kemenangan ini amat sangat dekat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">Kedinamisan Gerak Dakwah (Hayawiyatun Harakiyatun) </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Adalah suatu kepatutan bagi kader dakwah untuk mengkondisikan kepribadiannya sedemikian rupa. Dengannya gerak dakwah ini akan semakin dinamis. Bahkan akan semakin mulus melenggangkan badannya untuk berkembang dan tersebar luas. Penyebaran dakwah yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan pelosok wilayah. Sehingga kenikmatan dakwah ini dirasakan secara merata. Ini menjadi indikasi kedinamisannya. Sebagaimana pertumbuhan fisik manusia yang dinamis adalah ketika seluruh organnya berkembang seimbang. Perkembangan tubuh yang imbang untuk dapat menjalani hidupnya yang semakin hari semakin menuntut kekuatan organ tubuhnya. Sehingga tidak boleh ada satu selpun dalam tubuhnya yang ngawur perkembangannya. Karena hal itu berdampak pada kesehatan dan kekuatan tubuhnya melakukan gerak hidupnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Adalah kewajiban kader dakwah untuk memenuhi kepribadian dirinya yang berimbas pada kedinamisan gerak dakwah ini. Dan kepribadian ini menjadi watak harian para kader. Maka mulailah berbenah diri secepat mungkin memenuhi tuntutannya. Terlebih bahwa kedinamisan dakwah ini memiliki dampak yang sangat besar. Bagaikan air yang terus mengalir. Aliran air akan menjadi suatu kekuatan dan energi kehidupan. Sebaliknya air yang diam tidak mengalir akan berakibat rusaknya susunan senyawa yang ada sehingga dapat merusak zat benda lainnya. Kedinamisan gerak dakwah ini akan berdampak pada: </span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>1.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">Kesiapan dimobilisasi di setiap lini (Isti’dadu lit tanfidz) </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Kesiapan kader dakwah untuk bisa dimobilasasi bagi kemenangan merupakan dampak dari gerak dakwah yang dinamis. Keberadaan kader di berbagai lini dapat memudahkan memikul tugas yang semakin banyak. Selayaknya memang bagi Kader dakwah menyadari akan fungsi dan perannya. Sehingga ia dapat selalu siap sedia dimobilisasi dalam untuk proyek besar dakwah ini. bahkan kesiapan dimobilisasi dan berada pada seluruh lini dari dakwah ini menjadi indikasi kualitas kader. Sebagaimana ungkapan Rasulullah SAW. tentang prajurit yang baik adalah mereka yang berada pada tugasnya masing-masing. Bila ditugaskan pada barisan depan ia ada di sana. Dan bila ditugaskan di bagian belakang ia pun menjalankan tugasnya di sana dengan baik. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Berada pada posisinya masing-masing, kader dakwah tidaklah boleh gentar apalagi kecewa dan mengeluh. Sebab semua itu tidak akan bermanfaat bagi dirinya untuk menjalankan tugasnya. Melainkan ia sambut dengan hati senang gembira dan selalu bermohon kepada Allah SWT. agar Dia senantiasa memberikan kekuatan untuk menunaikan tugas tersebut. Sehingga ia akan menjadi satu barisan prajurit yang gagah perkasa menyelesaikan amanahnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka&#8221;, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: &#8220;Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.&#8221; (QS. Ali Imran: 172). </span></em></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Kesiapan kader berada pada lini dakwah yang beragam karena menyadari bahwa pos-pos dakwah ini tidak boleh ada yang kosong. Kekosongan pos dakwah dapat membuka pintu kekalahan. Terlebih lagi pada pos yang sangat strategis. Cukuplah peristiwa Uhud menjadi pelajaran berharga bagi kader dakwah. Dimana pos-pos yang diringgalkan kadernya dapat menjadi peluang bagi musuh untuk mengobrak-abrik barisan kaum muslimin. Oleh karena itu apapun yang ditugaskan dakwah ini untuk menempati lini-lininya dan siap dalam keadaan dimobilisasi mesti diterima dengan antusias dan mengistijabahinya. Malah bila perlu selalu beranggapan bahwa justru disitulah letak kehidupan bagi dakwah ini. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan&#8221;. (Q.S. Al Anfal: 24). </span></em></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Meski demikian tidak menutup peluang untuk menyampaikan pendapatnya tentang lini yang paling tepat bagi dirinya. Namun yang perlu diingat adalah sikap kesiapannnya untuk dimobilisasi tidak boleh sampai hilang. </span></span><br />
<span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">2. Mengokohkan soliditas struktural (Taqwiyatu matanah at tanzhim) </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Gerak dakwah yang dinamis berdampak pula pada kesolidan struktural dakwah. Apalagi dengan keadaan kadernya yang selalu dalam kondisi siap sedia. Keadaan ini akan mejadikan struktural tidak akan pernah keropos. Sebab sering kali penyebab kekeroposan struktural lantaran gerak dakwah yang asal menggeliat dan kadernya yang dipenuhi dengan qadhaya internal. Sudah dapat dipastikan bahwa kader yang selalu rebut dengan urusan internal konflik akan menggembosi perjalanan dakwah. Malah gerak dakwah ini menjadi rusuh, jalan tak beraturan dan berarah. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Umar bin Abdul Aziz RA. memerintahkan kepada seluruh jajaran panglimanya untuk mencermati para prajuritnya. Agar selalu memonitor mereka sehingga dapat mengetahui aktivitas apa yang sedang mereka lakukan. Tidak dibenarkan bagi mereka berdiam diri atau tidak dalam barisannya. Perhatian yang sedemikian rupa untuk mempersempit ruang bagi kekeroposan struktural. Karena prajurit yang tidak berada dalam barisan amal akan berpeluang menjadi perusuh. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Ketahanan struktural dapat menjadi tameng yang amat kuat melawan serangan musuh. Serangan sebesar apapun tidak akan mempan untuk menerobos masuk ke dalamnya. Ketahanan ini sekaligus melindungi prajurit yang ada di dalamnya. Oleh karena itu Allah SWT. mewanti-wanti agar selalu menjaga daya tahan struktural melalui persatuan dan kesatuan prajurit yang ada di dalamnya.tidak gaduh dengan persoalan internalnya. Tidak ribut dengan qadhaya dakhiliyahnya. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk&#8221;. (QS. Ali Imran: 103) </span></em></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>2.<span style="font-family:&quot;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;">Meluasnya Manuver Dakwah (Tawsi&#8217;atu munawarati ad da&#8217;wah) </span></strong></span></p>
<p><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Dampak lainnya adalah manuver dakwah semakin meluas. Ia tidak dihambat oleh urusan-urusan internal sehingga langkah geraknya semakin melebar. Apalagi misi dari dakwah ini berkembang. Maka gerakannya harus selalu berkembang baik sisi jumlah kadernya, wilayahnya, jangkauan tanggung jawabnya, tuntutan dan kebutuhannya serta sisi perkembangan lainnya </span></span><span> </span><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Rasulullah SAW. selalu mengamati perkembangan demi perkembangan dakwah ini dengan mendapatkan informasi dari para sahabatnya. Sehingga beliau dapat membayangkan masa-masa yang akan terjadi pada dakwah dan umatnya setelah hamasah nabawiyah(kepekaan kenabiannya) tentunya. Paling tidak dengan kondisi kader dan struktural yang mapan tanpa hambatan yang berarti bagi dakwah ini penyebarluasan dakwah akan semakin pesat dan cepat. Sehingga dakwah ini kembali pada ashalahnya yakni miliki semua orang dari berbagai kalangan bukan hanya pada kalangan tertentu yang sangat terbatas. </span></span><span> </span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><strong><span style="font-family:Calibri;"> </span></strong></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;">Bila seluruh jajaran kader menghiasi dirinya dengan kepribadian kader dakwah sedemikian rupa dan gerak dakwah ini semakin dinamis tanpa henti atau stagnan dalam geraknya maka futuhat-futuhat dakwah ini semakin dekat. Dan pintu-pintu kemenangan itu semakin terbuka. Serta serombongan manusia akan berbondong-bondong menerimanya. Tinggal permasalahan adalah sejauh mana kemauan kader untuk menata diri dan menghiasinya dengan kepribadian tersebut. Disinilah masalahnya. Maka sejak saat ini tanamkan dalam diri kita masing-masing untuk berupaya mewujudkannya dalam diri kita. Tanpa kenal lelah dan henti. Berusahalah semaksimal mungkin semoga Allah SWT. membantu diri kita untuk mengaplikasikannya. Wallahu &#8216;alam bishshawaab. </span></span></p>
<p><span class="kalender"><em><span style="font-family:Calibri;">&#8220;Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik&#8221;. (Q.S. An Nur: 55) </span></em></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;"><span class="kalender"><span style="font-family:Calibri;"><a href="http://www.alhikmah.ac.id/soft/Artikel/rasmulbayan/jundiyah.pdf" target="new">(Rasmul bayan As Syakhshiyah Al Jundiyah) </a></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=25&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/kepribadian-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUI, Penjaga Moral Umat dan Pancasila</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/mui-penjaga-moral-umat-dan-pancasila/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/mui-penjaga-moral-umat-dan-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:24:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[MUI, Penjaga Moral Umat dan Pancasila Oleh Arief Mujayatno Pada usianya yang ke-33 tahun, 26 Juli 2008, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melewati berbagai suka duka sebagai organisasi tempat para ulama melayani kepentingan umat Islam. Berdirinya MUI pada 17 Rajab 1395 Hijriah atau bertepatan dengan 26 Juli 1975 di Jakarta, dilatarbelakangi pertemuan para ulama, cendekiawan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=21&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> MUI, Penjaga Moral Umat dan Pancasila</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh Arief Mujayatno</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal">Pada usianya yang ke-33 tahun, 26 Juli 2008, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melewati berbagai suka duka sebagai organisasi tempat para ulama melayani kepentingan umat Islam.</p>
<p>Berdirinya MUI pada 17 Rajab 1395 Hijriah atau bertepatan dengan 26 Juli 1975 di Jakarta, dilatarbelakangi pertemuan para ulama, cendekiawan, dan zu`ama (pemimpin) se-Indonesia dari berbagai ormas Islam.</p>
<p>Hadir dalam pertemuan itu sebanyak 26 ulama yang mewakili seluruh propinsi yang ada saat itu, 10 ulama dari ormas Islam tingkat pusat; Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti, Al Washliyah, Mathla`ul Anwar, GUPPI, PTDI, Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan Al Ittihadiyah.<span id="more-21"></span></p>
<p>Ada juga empat ulama dari Dinas Rohani Islam Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Polri, serta 13 tokoh cendekiawan yang hadir atas nama pribadi.</p>
<p>Pertemuan itu akhirnya memutuskan perlunya sebuah wadah silaturahmi para ulama di seluruh Tanah Air untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah, yang kemudian diberi nama Majelis Ulama Indoensia (MUI).</p>
<p>Ketika itu, sejumlah negara di Asia Teggara telah memiliki Dewan atau Majelis Ulama (Mufti) yang juga bertindak sebagai penasehat tertinggi negara di bidang keagamaan.</p>
<p>Melihat kondisi seperti itu, para ulama menyadari perlunya Indonesia memiliki sebuah lembaga yang mewakili umat Islam Indonesia jika ada pertemuan ulama tingkat Internasional.</p>
<p>Atau, yang mewakili umat Islam Indonesia jika ada tamu dari luar negeri yang ingin bertukar pikiran dengan dengan ulama Indonesia.</p>
<p>Momentum berdirinya MUI tersebut juga bertepatan dengan dalam fase kebangkitan kembali Indonesia setelah 30 tahun merdeka. Ketika itu para ulama melihat energi bangsa banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap kesejahteraan rohani umat.</p>
<p>Sekretaris Umum MUI periode 2005-2010, HM Ichwan Sam, menuturkan bahwa berdirinya MUI diiringi kontroversi. Sambutan masyarakat terhadap berdirinya lembaga tersebut tidak hangat, apalagi ketika itu hubungan pemerintah dan umat Islam kurang harmonis.</p>
<p>Kehadiran MUI saat itu kerap dicurigai sebagai rekayasa pemerintah untuk membatasi peran ormas Islam di tengah masyarakat.</p>
<p>&#8220;Karena itu, pada tahun-tahun pertama, program kerja MUI adalah melakukan sosialisasi atau memperkenalkan diri kepada masyarakat Indonesia maupun internasioal tentang eksistensi, tugas, dan fugsi MUI,&#8221; kata Ichwan.</p>
<p>Sekitar tahun 1990, katanya, MUI mulai merasakan adanya penerimaan masyarakat dan mayoritas umat Islam terhadap organisasi itu.</p>
<p>Meski tidak luput dari kritik, MUI dipercaya sebagai lembaga tempat meminta nasehat dan bersandarnya umat Islam jika mereka menemui berbagai masalah.</p>
<p>Sebagaimana dikutip dalam laman resminya, MUI memiliki kepengurusan mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan, dengan struktur organisasi terdiri atas Dewan Penasehat, Dewan Pimpinan Harian, dan Anggota Pleno.</p>
<p>Sesuai hasil Musyawarah Nasional (Munas) VII MUI tahun 2005, MUI Pusat terdiri atas 11 Komisi, mulai Komisi Fatwa hingga Komisi Hubungan Luar Negeri.</p>
<p>MUI pun memiliki sejumlah lembaga atau badan yang berada dalam pengawasannya, yakni Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, Minuman dan Kosmetika (LP POM), Dewan Syariah Nasional (DSN), Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas), Badan Penerbit MUI, dan Yayasan Dana Dakwah Pembangunan (YDDP).</p>
<p>Dengan perangkat pendukung yang ada itu, menurut Ichwan, kiprah MUI kian dirasakan umat Islam, meski pun tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit.</p>
<p>Berbagai imbauan, nasehat, kritik, hingga fatwa dikeluarkan MUI untuk memperbaiki, mengkritisi, dan mencegah hal-hal yang diprediksi akan membawa dampak buruk bagi masyarakat dan umat Islam di Indonesia.</p>
<p><strong>Fatwa MUI</strong></p>
<p>Sejumlah fatwa yang telah dikeluarkan MUI antara lain fatwa tentang Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual, Fatwa tentang Perdukunan dan Peramalan, Fatwa tentang Doa Bersama, Fatwa tentang Perkawinan Beda Agama, Kewarisan Beda Agama, dan Fatwa tentang Hukuman Mati.</p>
<p>Terkait polemik aliran Ahmadiyah, MUI pun mengeluarkan Fatwa, yang isinya menegaskan bahwa aliran Ahmadiyah berada di luar Islam.</p>
<p>Meski kemudian fatwa tersebut menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat, fatwa tersebut setidaknya menjadi bahan rujukan agar umat Islam tidak terjerumus pada aliran keagamaan yang menyesatkan.</p>
<p>Polemik yang terjadi seputar aliran Ahmadiyah telah berkembang mulai dari sekadar perbedaan pendapat, hujatan, hingga tindakan anarkis.</p>
<p>Kejadian terakhir adalah peristiwa bentrokan yang dilakukan sekelompok massa terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Baragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yagn terjadi di sekitar Tugu Monumen Nasional (Monas) pada 1 Juni 2008.</p>
<p>Sebagian pihak bahkan menuding fatwa MUI tentang Ahmadiyah telah menyebabkan masyarakat bertindak anarkis terhadap pengikut Ahmadiyah. Bahkan sejumlah tokoh seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat melontarkan pernyataan agar MUI dibubarkan.</p>
<p>Polemik itupun akhirnya reda setelah pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Jaksa Agung pada 9 Juni 2008, yang memerintahkan anggota dan pengurus Ahmadiyah meghentikan segala aktifitasnya.</p>
<p>Sikap tegas MUI tentang Aliran Ahmadiyah, menurut Ichwan, merupakan salah satu wujud komitmen MUI sebagai lembaga yang diharapkan dapat membimbing dan melayani umat.</p>
<p>Hal lain yang pernah dilakukan MUI adalah ketika majalah pria dewasa &#8220;Playboy&#8221; akan diterbitkan pada April 2005.</p>
<p>Beberapa bulan sebelum majalah itu terbit, MUI secara tegas menolak kehadiran majalah berlambang kepala kelinci tersebut.</p>
<p>MUI menegaskan, dari segi agama, budaya ketimuran dan citra bangsa, majalah tersebut tidak layak beredar di seluruh penjuru Tanah Air.</p>
<p>MUI juga mendorong pemerintah daerah menyusun peraturan daerah bernuansa Islami, seperti perda anti kemaksiatan dan sejenisnya agar masyarakat terhindar dari kehidupan yang tidak baik.</p>
<p>&#8220;Islam itu `rahmatan lil alamin`, jadi aturan-aturannya akan membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik,&#8221; kata Ketua MUI, KH Ma`ruf Amin, dalam sebuah acara diskusi di Jakarta.</p>
<p>Menurut dia, perda bernuansa Islami atau perda syariah itu sama sekali tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Pancasila, katanya, merupakan ideologi religius yang dicerminkan pada sila pertama &#8220;Ketuhanan Yang Maha Esa&#8221;.</p>
<p>Karena itu, lanjutnya, pihak-pihak yang ingin mempertentangkan Pancasila dengan Islam adalah pihak yang ingin menjauhkan Pancasila dari agama.</p>
<p>&#8220;NKRI dan Pancasila itu kesepakatan bersama dan sudah final. Tidak perlu ada negara Islam,&#8221; kata KH Ma`ruf Amin.</p>
<p>MUI juga mengeluarkan fatwa dan terus mendesak kalangan pemerintah dan DPR RI agar segera mengesahkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi menjadi UU, mengingat pembahasan RUU tersebut sudah memakan waktu cukup lama.</p>
<p>Selain itu, hal lain yang telah dilakukan MUI adalah ikut membantu pemerintah mengembangkan kegiatan perekonomian dan keuangan nasional, termasuk perbankan, berdasarkan prinsip syariah Islam.</p>
<p>Kiprah MUI itu dilakukan melalui Dewan Syariah Nasional (DSN) yang telah banyak mengeluarkan fatwa mengenai prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan syariah.</p>
<p>Meski secara yuridis keberadaan perbankan syariah di Indonesia relatif masih baru, yakni sembilan tahun sejak diberlakukannya UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan, perkembangannya semakin pesat.</p>
<p>Dengan semakin berkembangnya persoalan umat di tengah era globalisasi saat ini, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath mengatakan, peran MUI semakin diperlukan untuk merespon persoalan umat, menjaga kesetiaan, aqidah, serta moral umat.</p>
<p>&#8220;Kekuatan MUI berada pada kewenangannya mengeluarkan fatwa,&#8221; katanya.</p>
<p>Misalnya, fatwa soal Ahmadiyah, fatwa tentang haramnya mengikuti paham sekularisme, pluralisme dan liberalisasi agama, yang semuanya hal mendasar.</p>
<p>&#8220;Kalau tidak ada fatwa seperti itu, akan banyak yang hanyut dalam sekularisasi dan liberalisasi, Ahmadiyah itu salah satu bentuknya,&#8221; katanya.</p>
<p>Dengan adanya fatwa-fatwa MUI tersebut, katanya, diharapkan muncul kesadaran umat dan ormas Islam untuk secara berkesinambungan menyosialisasikan dan memperjuangkan fatwa-fatwa itu di masyarakat.</p>
<p>Dia mengatakan, larangan pornografi dan pornoaksi muncul dari fatwa MUI dalam rangka menjaga moral umat.</p>
<p>Menurut dia, upaya para ulama yang sudah semaksimal mungkin menjaga moral masyarakat dengan menjelaskan haramnya pornografi dan pornoaksi, kini terancam dengan adanya &#8220;sindikasi&#8221; yang teratur rapih untuk menghancurkan moral bangsa, seperti melalui tayangan televisi yang berbau pornografi dan pornoaksi.</p>
<p>&#8220;Sekarang sudah tidak cukup lagi ulama bicara. Harus dengan tindakan negara yang bersifat memaksa seperti Undang-Undang, dan aturan hukum,&#8221; katanya.</p>
<p>Untuk selanjutnya, kata dia, perlu didorong agar fatwa MUI diperluas, seperti fatwa menyangkut korupsi, bahan bakar minyak, hingga sumber daya alam yang dikuasai pihak asing.</p>
<p>Menurut dia, agar fatwa itu lebih efektif, fatwa-fatwa MUI itu diharapkan diadopsi oleh negara menjadi peraturan perundangan. (*)</p>
<p><!-- google_ad_section_end --></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Jakarta (ANTARA News)</p>
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=21&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/mui-penjaga-moral-umat-dan-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reformasi Hukum di Indonesia: Sebuah Perjalanan Panjang dan Berlik</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/reformasi-hukum-di-indonesia-sebuah-perjalanan-panjang-dan-berlik/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/reformasi-hukum-di-indonesia-sebuah-perjalanan-panjang-dan-berlik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pknh2003.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Reformasi Hukum di Indonesia: Sebuah Perjalanan Panjang dan Berlik Oleh Dodik Setyo Wijayanto (Mahasiswa FHUI angkatan 2001) Kondisi Hukum Indonesia Saat ini tidak mudah bagi saya untuk memaparkan kondisi hukum di Indonesia tanpa adanya keprihatinan yang mendalam mendengar ratapan masyarakat yang terluka oleh hukum, dan kemarahan masyarakat pada mereka yang memanfaatkan hukum untuk mencapai tujuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=18&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> Reformasi Hukum di Indonesia: Sebuah Perjalanan Panjang dan Berlik</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh Dodik Setyo Wijayanto</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">(Mahasiswa FHUI angkatan 2001)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Kondisi Hukum Indonesia</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saat ini tidak mudah bagi saya untuk memaparkan kondisi hukum di Indonesia tanpa adanya keprihatinan yang mendalam mendengar ratapan masyarakat yang terluka oleh hukum, dan kemarahan masyarakat pada mereka yang memanfaatkan hukum untuk mencapai tujuan mereka tanpa menggunakan hati nurani. Dunia hukum di Indonesia tengah mendapat sorotan yang amat tajam dari seluruh lapisan masyarakat, baik dari dalam negri maupun luar negri. Dari sekian banyak bidang hukum, dapat dikatakan bahwa hukum pidana menempati peringkat pertama yang bukan saja mendapat sorotan tetapi juga celaan yang luar biasa dibandingkan dengan bidang hukum lainnya. Bidang hukum pidana merupakan bidang hukum yang paling mudah untuk dijadikan indikator apakah reformasi hukum yang dijalankan di Indonesia sudah berjalan dengan baik atau belum. Hukumpidana bukan hanya berbicara tentang putusan pengadilan atas penanganan perkara pidana, tetapi juga meliputi semua proses dan sistem peradilan pidana. Proses peradilan berawal dari penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian dan berpuncak pada penjatuhan pidana dan selanjutnya diakhiri dengan pelaksanaan hukuman itu sendiri oleh lembaga pemasyarakatan. Semua proses pidana itulah yang saat ini banyak mendapat sorotan dari masyarakat karena kinerjanya, atau perilaku aparatnya yang jauh dari kebaikan.<span id="more-18"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di tahun 2005 yang akan berakhir bebarapa hari ini, kita dapat mengatakan semua institusi penegak hukum dalam proses pidana mendapat sorotan yang tajam. Dari kepolisian kita akan mendengar banyaknya kasus penganiayaan dan pemerasan terhadap seorang tersangka yang dilakukan oknum polisi pada saat proses penyidikan. Terakhir perihal pemerasaan terhadap seorang tersangka tersebut telah meyeret beberapa perwira tinggi di kepolisian. Institusi kejaksaan juga tidak luput dari cercayaan, dengan tidak bisa membuktikannya kesalahan seorang terdakwa di pengadilan, bahkan terakhir muncul satu kasus dimana jaksa gagal melaksanakan tugasnya sebagai penegak hukum yang baik setelah surat dakwaannya dinyatakan tidak dapat diterima. Adanya surat dakwaan yang tidak dapat diterima oleh majelis hakim, menunjukkan bahwa jaksa tersebut telah menjalankan tugasnya dengan dengan tidak profesioanl dan bertanggung jawab. Ironisnya tidak diterimanya surat dakwaan tersebut disebabkan karena hampir sebagian besar tanda tangan di berita acara pemeriksaan (BAP) merupakan tanda tangan palsu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Akhirnya proses pidana sampai di tangan hakim (pengadilan) untuk diputus apakah terdakwa bersalah atau tidak. Hakim sebagaiorang yang dianggap sebagai ujung tombak untuk mewujudkan adanya keadilan, ternyata tidak luput juga dari cercaan masyarakat. Banyaknya putusan yang dianggap tidak adil oleh masyarakat telah menyebabkan adanya berbagai aksi yang merujuk pada kekecewaan pada hukum. Banyaknya kekecewaan terhadap pengadilan (hakim) ini terkait dengan merebaknya isu mafia peradilan yang terjadi di tubuh lembaga berlambang pengayoman tersebut. Institusi yang seharusnya mengayomi hukum ini sempat menyeret nama pimppinan tertingginya sebagai salah satu mafia peradilan. Meskipun kebenarannya sampai saat ini belum terbukti, namun kasus ini menunjukkan bahwa pengadilan masuk sebagai lembaga yang tidak dipercaya oleh masyarakat. Jika kita sudah tidak percaya lagi pada pengadilan, pada institusi mana lagi kita akan meminta keadilan di negri ini?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mafia peradilan ternyata tidak hanya menyeret nama hakim semata, tetapi justru sudah merebak sampai pegawai-pegawainya. Panitera pengadilan yang tugasnya tidak memutus perkara ternyata juga tidak luput dari jerat mafia suap. Bahkan kasus suap ini telah menyeret beberapa nama sampai ke pengadilan. Ironisnya mafia ini juga sampai ke tangan para petugas parkir atau petugas lain yang aa pada institusi pengadilan. Sungguh ironis sekali kenyataan yang kita lihat sampai akhir tahun ini, terkait dengan mafia peradilan. Pengacara (advokat) sebagai salah satu komponen yang seharusnya ikut menegakkan hukum ternyata juga ikut andil dalam mafia peradilan yang semakin membuat bopeng wajah hukum Indonesia. Pengacara sebagai profesi yang biasa dikatakan sebagai profesi independen juga telah menyeret mantan hakim untuk masuk dalam mafia peradilan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Uraian di atas menunjukkan betapa rusaknya hukum di Indonesia. Mungkin yang tidak mendapat sorotan adalah lembaga pemasyarakatan karena tidak banyak orang yang mengamatinya. Tetapi lembaga ini sebenarnya juga tidak dapat dikatakan sempurna. Lembaga yang seharusnya berperan dalam memulihkan sifat para warga binaan (terpidana) ternyata tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Jumlah narapidana yang melebihi dua kali lipat dari kapasitasnya menjadikan nasib nasib narapidana juga semakin buruk. Mereka tidak tambah sadar, tetapi justru belajar melakukan tindak pidana baru setelah berkenalan dengan narapidana lainnya. Tentunya ini jauh dari konsep pemidanaan yang sesungguhnya bertujuan untuk merehabilitasi terpidana. Lembaga lain yang perlu dicermati adalah Komisi Pemberantasan Korupsi yang sudah beberapa tahun bekerja, dan Tim Koordinasi Pemberantasan Korupsi (Timtaskor) yang dibentuk melalui Kepres No.11 tahun 2005. Kedua lembaga ini merupakan lembaga baru yang belum banyak mendapat sorotan negatif karena baru beberapa waktu saja bekerja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Keprihatinan yang mendalam tentunya melihat reformasi hukum yang masih berjalan lambat di tahun 2005 ini, dan belum memberikan rasa keadilan bagi masyarakat. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pada dasarnya apa yang terjadi akhir-akhir ini merupakan ketiadaan keadilan yang dipersepsi masyarakat (the absence of justice). Ketiadaan keadilan ini merupakan akibat dari pengabaian hukum (diregardling the law), ketidakhormatan pada hukum (disrespecting the law), ketidakpercayaan pada hukum (distrusting the law) serta adanya penyalahgunaan hukum (misuse of the law). Sejumlah masalah yang layak dicatat berkenaan dengan bidang hukum antara lain:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Sistem peradilan yang dipandang kurang independen      dan imparsial</li>
<li class="MsoNormal">Belum memadainya perangkat hukum yang mencerminkan      keadilan sosial<br />
Inkonsistensi dalam penegakan hokum</li>
<li class="MsoNormal">Masih adanya intervensi terhadap hokum</li>
<li class="MsoNormal">Lemahnya perlindungan hukum terhadap masyarakat</li>
<li class="MsoNormal">Rendahnya kontrol secara komprehensif terhadap      penegakan hokum</li>
<li class="MsoNormal">Belum meratanya tingkat keprofesionalan para      penegak hokum</li>
<li class="MsoNormal">Proses pembentukan hukum yang lebih merupakan power      game yang mengacu pada kepentingan the powerfull daripada the needy.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain lembaga-lembaga yang telahh disebut di atas masih ada lembaga lain yang terkait dengan penegakan hokum di Indonesia yaitu Mahkamah Konstitusi (MK). Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga Negara yang melakukan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hokum dan keadilan. Keberadaan MK yang didasarkan pada UU 24 tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi menjadi salah satu control atas peran DPR yag berperan sebagai lembaga legislative. Mekanisme control ini diwujudkan dengan kewenangannya untuk melakukan uji materil atas Undang-Undang yang dibuat oleh DPR. Seperti telah disebut di atas bahwa ada kalanya pembuatan Undang-Undang yang ada di Indonesia tidak dilakukan dalam rangka mewujudkan keadilan, sehingga perlu adanya suatu kontrol untuk menilai apakah Undang-Undang tersebut bertentangan dengan UUD 1945. Selama hampir dua tahun menjalankan tugasnya kiranya MK telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai garda penjaga konstitusi. Sebagai penafsir konstitusi yang tertinggi, apa pun yang diputuskan oleh MK memang harus diikuti, terlepas dari perdebatan yang ada di MK dalam menilai suatu perkara. Dalam tugas lain juga saya menilai MK dapat berperan dengan baik, ini karena tugas MK yang senantiasa terkait dengan penafsiran terhadap UUD 1945 dan selama ini senantiasa berpegang teguh pada pendiriannya tanpa terpengaruh oleh pihak lain. Hal yang perlu diperbaiki dalam kaitannya dengan MK adalah terkait dengan hukum acara MK. Yang belum jelas. Artinya perlu diabuatkan suatu UU yang mengatur tata cara berperkara di MK, mengingat selama ini pengaturannya masih menggunakan pedoman dari MK.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Konsep Reformasi Hukum</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Setelah melihat kondisi hukum yang terpuruk      tersebut maka tidak ada kata lain selain terus mengedepankan reformasi      hukum yang telah digagas oleh bangsa ini. Kegiatan reformasi Hukum perlu      dilakukan dalam rangka mencapai supremasi hukum yang berkeadilan. Beberapa      konsep yang perlu diwujudkan antara lain</li>
<li class="MsoNormal">Penggunaan hukum yang berkeadilan sebagai landasan      pengambilan keputusan oleh aparatur Negara</li>
<li class="MsoNormal">Adanya lembaga pengadilan yang independen, bebas      dan tidak memihak.</li>
<li class="MsoNormal">Aparatur penegak hukum yang professional</li>
<li class="MsoNormal">Penegakan hukum yang berdasarkan prinsip keadilan</li>
<li class="MsoNormal">Pemajuan dan perlindungan HAM</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Partisipasi public</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mekanisme kontrolyang efektif.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada dasarnya reformasi hukum harus menyentuh tiga komponen hukum yang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">disampaikan oleh Lawrence Friedman ayng meliputi:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Struktur Hukum</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Struktur hukum merupakan pranata hukum yang menopang sistem hukum itu sendiri, yang terdiri atas bentuk hukum, lembaga-lembaga hukum, perangkat hukum, dan proses serta kinerja mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Substansi Hukum</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Substandi hukum merupakan isi dari hukum itu sendiri, artinya isi hukum tersebut harus merupakan sesuatu yang bertujuan untukmenciptakan keadilan dan dapat diterapkan dalam masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Budaya Hukum</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Budaya hukum ini terkait dengan profesionalisme para penegak hukum dalam menjalankan tugasnya, dan tentunya kesadaran masyarakat dalam menaati hukum itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Kiranya dalam rangka melakukan reformasi hukum tersebut      ada beberapa hal yang harus dilakukan antara lain:</li>
<li class="MsoNormal">Penataan kembali struktur dan lembaga-lembaga hukum      yang ada termasuk</li>
<li class="MsoNormal">sumber daya manusianya yang berkualitas</li>
<li class="MsoNormal">Perumusan kembali hukum yang berkeadilan</li>
<li class="MsoNormal">Peningkatan penegakkan hukum dengan menyelesaikan kasus-kasus      pelanggaran hokum</li>
<li class="MsoNormal">Pengikutsertaan rakyat dalam penegakkan hokum</li>
<li class="MsoNormal">Pendidikan publik untuk meningkatkan pemahaman      masyarakat terhadap hokum</li>
<li class="MsoNormal">Penerapan konsep Good Governance</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Penutup<br />
</strong><br />
Menko Polkam Widodo AS sesuai sidang kabinet paripurna yang dipimpin Presiden Yudhoyono 28 Desember menegaskan, untuk tahun 2006, selain pencegahan, pengejaran dan pengusutan kasus-kasus korupsi, pemerintah akan terus berusaha mengejar aset dan memulihkan kerugian negara. Pemerintah juga tetap melanjutkan upaya serupa untuk mengatasi aksi terorisme dan narkoba. Pemerintah juga akan mencegah berkembangnya radikalisme melalui kebijakan bersama Menko Kesra. Mereka juga akan meningkatkan pemberantasan segala kegiatan ilegal, mulai dari penebangan liar (illegal Logging), penangkapan ikan liar (illegal fishing) hingga penambangan liar (illegal mining), baik yang lokal maupun yang transnasional. Dari ungkapan ini kiranya korupsi menjadi prioritas utama untuk diberantas di tahun 2006. Hal ini mengingat Indonesia sebagai negara terkorup keenam bersama Azerbaijan, Kamerun, Ethiopia, Irak, Liberia, Uzbekistan berdasarkan laporan Transparansi Internasional tahun 2005.</p>
<p>Melihat kenyataan yang terjadi di tahun 2005 saya berpendapat bahwa penegakan hukum di Indonesia tidak akan mengalami kemajuan yang begitu pesat, tetapi kemajuan itu akan tetap ada. Hal ini terlihat dari komitmen pemerintah untuk mewujudkan penegakkan hukum dengan didukung oleh aparat penegak hukum lainnya. Kasus mafia peradilan yang akhir-akhir ini banyak disorot masyarakat akan menjadikan penegak hukum lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya. Meskipun saat ini kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum masih sangat rendah. Adanya kenaikan BBM beberapa waktu membuat turunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang akhirnya juga menurunkan kepercayaan kepada aparat penegak yang dianggap juga sebagai bagian dari pemerintah. Keberanian KPK akhir-akhir ini akan menjadi titik cerah juga bagi penegakan hukum di tahun 2006. Namun selain itu kesadaran masyarakat dalam menaati hukum akan menjadi hal yang mempengaruhi penegakkan hukum di Indonesia. Karena lemahnya penegakan hukum selama ini juga akibat masyarakat yang kurang menaati hukum. Akankah tahun 2006 penegakkan hukum menjadi lebih baik? Semoga.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=18&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/reformasi-hukum-di-indonesia-sebuah-perjalanan-panjang-dan-berlik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/hello-world/</link>
		<comments>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 03:25:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asyakir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=1&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pknh2003.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pknh2003.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pknh2003.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pknh2003.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pknh2003.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pknh2003.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pknh2003.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pknh2003.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pknh2003.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pknh2003.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pknh2003.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pknh2003.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pknh2003.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pknh2003.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pknh2003.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pknh2003.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pknh2003.wordpress.com&amp;blog=4310804&amp;post=1&amp;subd=pknh2003&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pknh2003.wordpress.com/2008/07/24/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/45429ddb8d79f8075b5a2c81325335cf?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">asyakir</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
